Namanya Antonius, 18 tahun. Setelah orabg tuanya meninggal dunia, ia tinggal sendiri dengan satu-satunya adik wanitanya yang masih kecil. Ia menginginkan hidup yang sempurna di mata Tuhan.
Enam bulan berlalu setelah kematian orang tuanya, ia masuk ke dalam gereja. Kebetulan pada saat itu injil sedang dibacakan.
“Jikalau engkau ingin menjadi sempurna, pergilah, juallah harta milikmu, dan berikanlah kepada orang miskin, dan engkau akan memiliki harta di surga, dan datanglah mengikuti aku.”
Selekas itu juga ia menjual peninggalan orang tuanya.
“Jangan kamu khawatir akan hari esok.”
Antonius menyerahkan adiknya kepada pengasuh yang dapat dipercaya untuk dididik.
Antonius bekerja dengan tangannya sendiri, karena ia mendengar bahwa,
“Barang siapa tidak bekerja, ia tidak boleh makan.”
Apa yang diperolehnya, sebagian untuk makan dan sebagiannya lagi diberikan kepada orang miskin. Ia terkenal dengan sebuatan sahabat Tuhan.