Bentuk hidup saleh itu berbeda pada pengusaha atau karyawan, presiden atau masyarakat, bapak atau ibu, kakak atau adik, janda atau gadis, mahasiswa atau buruh, dan lain-lain.
Selanjutnya harus disesuaikan dengan kekuatan, keadaan, dan kewajiban masing-masing.
Hidup saleh yang sejati tidak pernah merugikan, melainkan menyempurnakan apa yang kita lakukan. Hidup saleh yang bertentangan dengan martabat hidup seseorang itu jelas salah.
Lebah menghisap madu dari bunga tanpa merusakkannya, tetapi meninggalkannya utuh dan segar seperti waktu menemukannya. Hidup saleh masih lebih lagi: tidak hanya tidak merugikan martabat hidup, tetapi menghiasi dan memberikan keindahan-keindahan.
Berbagai macam permata direndam dalam madu menjadi lebih gemerlapan, setiap bentuk menurut warnanya. Begitu juga setiap orang menjadi lebih menarik dan lebih sempurna dalam panggilannya kalau ia mempersatukannya dengan hidup saleh.
Hidup saleh membuat hidup keluarga penuh damai, cinta suami-istri lebih jujur, penghambaan kepada raja lebih setia, dan setiap tugas menjadi menyenangkan penuh gembira.
“Di manapun kita berada, kita tidak hanya saleh tetapi harus mengusahakan kesempurnaan.” (Fransiskus dari Sales)
dimanpun saleh, setuju banget
yap, benar saudaraku!