SAKRAMEN TOBAT

1. Pengantar

Untuk mencapai persekutuan dengan Allah, umat manusia tidak pernah terlepas dari dosa. 1 Yoh 1:8-10,2:1 mengatakan: “Kalau kita mengakukan dosa-dosa kita, maka Dia yang adalah setia dan suci akan mengampuni dosa-dosa kita dan akan menyucikan kita dari setiap pencemaran.[1] Dosa mengakibatkan sulitnya membangun kehidupan bersama dengan Allah dari pihak kita (manusia).[2]

Tulisan yang sederhana ini akan mencoba memaparkan bagaimana sakramen tobat itu harus dilakukan dan dilaksanakan. Pemaparan ini diawali dengan pengertian sakramen tobat sendiri, kemudian sakramen tobat dalam bingkai sejarah, dasar biblis, dan tujuannya. Selanjutnya pemaparan perayaan Sakramen Tobat, unsur-unsur utama dalam perayaan Sakramen Tobat, refleksi atas Sakramen Tobat, dan diakhiri dengan pemaparan secara singkat tentang indulgensi.

2. Pengertian Sakramen Tobat

Sakramen tobat dalam KHK diketengahkan dalam tugas Gereja menuduskan. Pembahasan mengenai sakramen tobat termuat dalam judul IV, dimulai dari Kan. 959-997, dibagi dalam 4 bab. Bab I: Perayaan sakramen tobat (Kan. 960-964), Bab II: Pelayanan sakramen tobat (Kan. 965-986), Bab III: Peniten sendiri (Kan. 987-991) dan Bab IV: Indulgensi (Kan. 992-997).

Sakramen-sakramen dalam Gereja dimaksudkan untuk menguduskan manusia, membangun Tubuh Kristus dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah (SC. 59). Salah satu dari tujuh sakramen dalam Gereja Katolik adalah sakramen tobat (SC.72). Sakramen Tobat ini disebut juga dengan istilah “rekonsiliasi”. Istilah rekonsiliasi untuk mengungkapkan sakramen tobat lazim digunakan dalam Gereja abad I dan teologi; liturgi Sakramen Tobat sekarang ini kembali menggunakan istilah rekonsiliasi. Reconciliatio (Latin) mengungkapkan inisiatif Allah yang lebih dahulu menawarkan perdamaian kepada umat-Nya (pendamaian dengan Allah), pendamaian kita dengan sesama dan seluruh alam ciptaan sebagai dimensi sosial dan ekologis, dan penyembuhan yang bermakna penemuan kembali kehidupan damai pada hati orang yang bertobat dan telah menerima pengampunan dosa.[3]

3. Pertobatan dalam Bingkai Sejarah

3.1 Pertobatan dalam Kitab Suci

3.1.1 Perjanjian Lama

Kata Ibrani syuv berarti berputar, berbalik kembali. Hal itu mengacu pada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama, kata yang dipakai untuk pertobatan adalah “kembalilah” (Yer 3:14), “berbalik” (Mzm 78:34), dan “bertobat” (Yer 18:8). Perjanjian Lama jarang sekali mencatat pertobatan individual (Mzm 51:14) tetapi menubuatkan pertobatan ‘segala ujung bumi’ kepada Allah (Mzm 22:28). Kalau seluruh bangsa ingin kembali damai dan sejahtera, mereka harus bertobat. Pertobatan itu bisa merupakan pertobatan yang diungkapkan dalam bentuk tanda atau pun acara kultis, seperti berkumpul untuk mengaku dosa (Ezr 9:13; Neh 9:36-37), berpuasa (Neh 9:1; Yl 1:14), mengenakan kain kabung (Neh 9:1; Yl 1:13), duduk di atas abu atau menaburkan abu di kepala (Yer 6:26; Yun 3:6), dan menyampaikan korban bakaran (Im 16:1-19).[4]

Perjanjian Lama menekankan bahwa cakupan pertobatan melebihi duka-cita penyesalan dan perubahan tingkah laku lahiriah. Dalam keadaan apa pun, pertobatan yang sungguh kepada Allah mencakup perendahan diri batiniah, perubahan hati yang sungguh, dan benar-benar merindukan Yahweh (Ul 4:29; 30:2,10; Yes 6:9; Yer 24:7), disertai pengenalan yang jelas dan baru akan Diri-Nya dan jalan-Nya (Yer 24:7; bdk. 2 Raj 5:15; 2 Taw 33:13).[5] Pertobatan batin ini harus juga berdampak sosial, “Bukan Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7). Namun, akhirnya seluruh pertobatan itu adalah karunia Allah. Allah menganugerahkan hati yang murni dan baru sehingga orang mau bertobat (bdk. Mzm 51:12; Yer 31:33).[6]

 

3.1.2 Perjanjian Baru

Ada dua istilah yang dipakai oleh Perjanjian Baru berkaitan dengan pertobatan, yakni metanoia dan epistrefô. Kata metanoia muncul dalam Perjanjian Baru kira-kira 58 kali dan selalu diterjemahkan “bertobat”, kecuali Luk 17:3 (‘menyesal’) dan Ibr 12:17 (‘memperbaiki kesalahan’, yang lebih merupakan tafsiran ketimbang terjemahan). Arti asasi kata metanoia adalah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, dan pandangan. Sementara kata epistrefô muncul kira-kira 30 kali. Dalam arti harafiah kata ini diterjemahkan ‘kembali’ atau ‘berpaling’ (Mat 10:13; 24:18; Kis 16:18; Why 1:12). Kata kerja biasa strefo juga diterjemahkan ‘bertobat’ dalam Mat 18:3.[7]

Jadi epistrefô menunjuk kepada tindakan ‘putar balik’ atau ‘pertobatan’ kepada Allah, unsur yang sangat menentukan dan dengan itu orang berdosa masuk ke dalam eskatologis Kerajaan Allah melalui iman dalam Yesus Kristus dan menerima pengampunan dosa. Tindakan ini menjamin perolehan keselamatan yang dibawa oleh Kristus, dan sifatnya adalah sekali untuk selamanya.[8]

Sejak awal karya publik-Nya, Yesus mewartakan perlunya pertobatan untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1:15). Sejak itu seruan tobat bergema dalam seluruh Perjanjian Baru. Bersama dengan itu juga  didengar kata-kata mengenai pengampunan. Bagi Diri-Nya sendiri Yesus menuntut hak dan wewenang untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10), dan sebelum meninggalkan para Rasul, kepada mereka pun Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:23). [9]

 

3.2 Sakramen Tobat dalam Praksis dan Ajaran Gereja

3.2.1 Rekonsiliasi Jemaat menurut Model Tobat Publik pada Zaman Patristik

Dari kesaksian Surat Klemens (tahun 93-97) diungkapkan model pertobatan dengan pengakuan dosa. Demikian pula pada pertengahan abad II, Didache menyatakan bahwa pengakuan dosa dan pengampunan dosa menjadi pengandaian seseorang boleh ikut Perayaan Ekaristi. Tertulianus pada akhir abad II menyebut tobat publik. Tobat publik ini diperuntukkan bagi warga Gereja yang melakukan dosa berat dan dilaksanakan sekali saja seumur hidup.[10]

3.2.2 Tobat Pribadi atau Pengakuan Dosa Pribadi sejak Abad VI

Praktik yang berat dari tobat publik (sekali saja seumur hidup) membuat orang cenderung menghindarinya dan baru menerimanya menjelang datangnya ajal. Tobat pribadi menjadi solusi untuk ini. Tobat ini berasal dari para rahib Irlandia pada abad VI. Mulai tahun 800, tobat publik sudah mendominasi seluruh Gereja Barat. Pada abad XIII, tobat pribadi diterima dan diajarkan dengan resmi oleh Gereja melalui Konsili Lateran IV (1215).[11]

3.2.3 Teologi Skolastik mengenai Sakramen Tobat

Tekanan teologi skolastik mengenai sakramen Tobat pada umumnya adalah ciri pengadilan dari sakramen Tobat tersebut. Pokok yang didiskusikan adalah kuasa imam untuk memberikan absolusi atau pelepasan dari dosa.[12]

2.2.4 Ajaran Resmi Gereja pada Abad Pertengahan mengenai Sakramen Tobat

Konsili Lateran IV (1215) mewajibkan semua umat beriman untuk mengaku dosa di hadapan imam sedikitnya sekali setahun dan untuk berusaha melakukan penitensi (DH 812). Konsili Trente (1551) menegaskan ajaran tentang sakramen Tobat sebagai berikut:

-         Sakramen Tobat ditetapkan oleh Kristus sendiri dan dapat diulangi

-         Gereja mempunyai kuasa untuk melepaskan dan mengampuni dosa

-         Pengakuan sakramental di hadapan imam sesuai dengan perintah Kristus dan ditetapkan oleh hukum ilahi

-         Menurut hukum Ilahi, pengakuan pribadi atas dosa berat adalah keharusan

-         Semua orang kristiani wajib mengaku dosa sekali setahun

-         Hanya imam, juga kalau ia berdosa berat, yang mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan dosa.[13]

 

3.2.5 Sakramen Tobat dalam Semangat Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II meninjau kembali Sakramen Tobat. Pertama-tama, konsili memakai lagi istilah ” Sakramen Tobat”, sebab yang terpenting dalam sakramen ini adalah ”tobat” dan ”orang beriman yang bertobat” (LG 28). Hubungan antara Sakramen Tobat dengan Gereja juga ditekankan oleh konsili (LG 11). Yang harus dilakukan oleh pentobat dalam Sakramen Tobat ada dua hal, yakni pengakuan dan penitensi (denda); hendaknya ia juga menyatakan tobatnya dengan laku tapa dan mati raga sukarela.[14]

Atas kehendak Konsili Vatikan II, disusunlah buku perayaan Sakramen Tobat yang baru, ”Ordo Penitentiae” (1973). Dalam pedoman umum ini ditampakkan dimensi ekklesial dan perayaan dari sakramen Tobat.[15]

 

4. Perayaan Sakramen Tobat (kan. 960-964)

4.1 Ritus Rekonsiliasi secara Pribadi[16]

Ritus ini merupakan pembaruan dari cara pengakuan pribadi tradisional (Konsili Trente). Unsur baru itu adalah pewartaan Sabda Allah, yang dapat juga dilakukan oleh peniten, entah pada saat perayaan pengakuan atau pemeriksaan batin; kemudian diikuti dengan pengakuan dosa-dosa di tempat khusus, beberapa nasihat dari bapa pengakuan, penumpangan tangan dan penerimaan penitensi.

Si peniten diminta untuk menyatakan rasa sedih dan sesal seraya mengucapkan salah satu rumus yang tersedia (doa tobat); kemudian bapa pengakuan memberi absolusi.

Seraya mengucapkan absolusi ini, bapa pengakuan membuat tanda salib dan si peniten membuat tanda salib pada dirinya. Ritus ditutup dengan ucapan terima kasih dan pengutusan si peniten.

Skema ringkas: Pemeriksaan batin, Tanda salib dan salam imam, Liturgi Sabda, Pengakuan dosa, Nasihat, Doa tobat (doa oleh si peniten), Absolusi, Ucapan syukur, dan Perutusan.

 

4.2 Ritus Rekonsiliasi untuk Beberapa Peniten dengan Pengakuan dan Absolusi Perorangan

Ritus ini merupakan cara baru yang mengajak peniten untuk melakukan persiapan bersama, namun kemudian dapat diteruskan dengan pengakuan pribadi.

Bagian pertama ritus ini sungguh merupakan liturgi sabda:

  • Nyanyian pembukaan
  • Salam dari imam
  • Doa oleh imam
  • Pewartaan sabda Allah
  • Homili
  • Pemeriksaan batin (silentium atau terpimpin)
  • Pengakuan umum (misalnya confiteor)
  • Doa litani (dalam bentuk universal, doa umat)
  • Doa Bapa Kami
  • Doa oleh imam

Bagian kedua:

  • Sesudah bagian pertama selesai, bapa pengakuan beranjak ke tempat yang sudah tersedia di mana dia menerima para peniten dan untuk mendengarkan pengakuan secara pribadi.
    • Pengakuan dosa, nasihat singkat, ucapan syukur, berkat dan pengutusan.[17]

 

4.3 Rekonsiliasi untuk Beberapa Peniten dengan Pengakuan dan Absolusi Umum

Ritus ini sama sekali baru. Ada tiga versi: lengkap, pendek, dan darurat. Ritus ini baru berlaku untuk saat-saat khusus yang tidak lazim atau keadaan memaksa, dan diselenggarakan dengan seizin uskup setempat (kan. 961 § 1).[18] Keadaan memaksa/darurat itu, misalnya, a) dalam bahaya maut dan tidak terdapat cukup waktu dan imam untuk mendengarkan pengakuan perorangan (saat perang, kebakaran, atau bencana alam) (Kan. 961 § 1 no. 1), atau b) karena jumlah peniten yang banyak sementara jumlah imam dan waktu yang ada tidak memadai untuk mendengarkan pengakuan perorangan (Kan. 961 § 1 no. 2), (saat peziarahan atau menjelang masa-masa pesta lirturgis/menjelang paskah/natal).

 

5. Unsur-unsur Utama dalam Perayaan Sakramen Tobat

5.1 Pelayan Sakramen Tobat (kan. 965-984)

Dalam Gereja katolik, hanya imam yang diberi wewenang untuk melayankan Sakramen Tobat. Wewenang itu diperoleh berkat tahbisan suci dan mempunyai yurisdiksi (Kan. 965). Yurisdiksi penitensial itulah yang menyebabkan validitas dan layak/licitnya pelayanan dan absolusinya. Mereka ini (Imam dan Uskup) adalah pelayan pertobatan baik dalam pertobatan maupun dalam liturgi sakramental tobat. Mereka sering disebut dengan bapa pengakuan. “Bapa pengakuan adalah tanda kasih Bapa yang ditunjukkan dalam Putera yang dalam kerajaan-Nya menghadirkan karya penebusan dan dengan kuasa-Nya hadir dalam sakramen-sakramen.”[19]

Kuasa kewenangan menerima dan memberi kewenangan menerima Sakramen Tobat:

  • Di samping Paus, para Kardinal memiliki dari hukum kewenangan untuk menerima pengakuan umat beriman kristiani di mana pun di seluruh dunia; demikian pula para Uskup boleh menggunakannya di mana saja, kecuali jika Uskup diosesan dalam kasus tertentu melarangnya (kan. 967 § 1).
  • Wewenang itu juga dimiliki oleh Ordinaris wilayah, kanonilk panitensiaris, dan juga pastor-paroki, serta yang lain yang menggantikan kedudukan pastor paroki (kan. 968 § 1).
  • Juga dimiliki oleh Pemimpin tarekat religius atau serikat hidup kerasulan jika tarekat itu bersifat klerikal tingkat kepausan, yang menurut norma konstitusi memiliki kuasa kepemimpinan eksekutif, dengan tetap berlaku ketentuan kan. 630 § 4 (kan. 968 § 2).
  • Ordinaris wilayah berwenang memberikan kewenangan untuk mendengar pengakuan umat beriman manapun kepada imam-imam siapa pun; akan tetapi para imam yang menjadi anggota tarekat-tarekat religius jangan menggunakan kewenangan itu tanpa izin dari pemimpinnya (kan. 969).
  • Kewenangan untuk menerima pengakuan secara tetap hendaknya diberikan secara tertulis (kan. 973).
  • Ordinaris wilayah, dan juga pemimpin yang berwenang, janganlah menarik kembali kewenangan mendengarkan pengakuan yang telah diberikan secara tetap kecuali atas alasan yang berat (kan. 974 § 1).
  • Jika kewenangan untuk menerima pengakuan ditarik kembali oleh Ordinaris wilayah yang memberinya, maka imam kehilangan kewenangan itu di mana pun; jika Kewenangan itu dicabut oleh Ordinaris wilayah lain, ia kehilangan kewenangan hanya di wilayah Ordinaris yang mencabutnya itu (kan. 974 § 2)
  • Jika kewenangan untuk menerima pengakuan ditarik kembali oleh pemimpin tertingginya sendiri, maka imam kehilangan kewenangan itu di mana pun terhadap anggota-anggota dari tarekat itu; akan tetapi jika kewenangan itu dicabut oleh pemimpin lain yang berwenang, ia kehilangan kewenangan hanya terhadap mereka yang menjadi bawahan pemimpin itu (kan. 974 § 4).
  • Pembimbing novis serta pembantunya, rektor seminari atau lembaga pendidikan lain hendaknya  jangan mendengar pengakuan para siswa yang berdiam dalam rumah yang sama bersamanya, kecuali jika para siswa itu dari kehendaknya sendiri memintanya dalam kasus-kasus khusus.
  • Dalam keadaan darurat semua bapa pengakuan wajib menerima pengakuan umat beriman, dan dalam bahaya mati semua imam mempunyai kewajiban itu (kan. 986 § 2)

Imam sebagai pelayan Gereja adalah sekaligus hakim dan tabib, pelayan keadilan belas kasih Allah (kan. 978 § 1). Nasihat yang diberikan oleh mereka hendaknya bersifat membebaskan dan memulihkan si peniten. Imam sebagai pelayan terikat pada rahasia sakramental pengakuan dosa. Rahasia ini tidak dapat diganggu-gugat. Seorang imam yang melayankan sakramen tobat tidak boleh membocorkan rahasia pengakuan dosa (kan. 983). Imam yang melakukan pelanggaran ini dapat dikenai hukum ekskomunikasi/dicabut wewenangnya.[20]

Tugas dan kewajiban imam sebagai pelayan sakramen tobat adalah sebagai berikut:

  • Siap menerima kapan pun bila ada yang mau mengaku dosa dan terikat mendengarkan pengakuan.
  • Tampil sebagai hakim spiritual yang bijaksana.
  • Melepaskan dosa-dosa melalui peniten yang resmi.
  • Dapat juga menolak atau menunda memberikan absolusi jika peniten belum layak menerimanya.
  • Sebagai dokter/tabib/ penyembuh dan bapa spiritual ia menyelidiki penyebab dosa itu dan memberikan ”obat” untuk menyembuhkannya.
  • Jika salah dalam hal memberikan nasihat kepada peniten, ia harus meralat kesalahannya menyangkut keabsahan sakramental.[21]

5.2 Peniten atau Pentobat (kan. 987-991)

Yang boleh mengaku dosa adalah orang beriman kristiani yang menyesali dosa dan berniat memperbaiki diri, bertobat kembali kepada Allah (kan. 987). Ia bebas memilih imam kepada siapa hendak mengaku dosa. Ia mengaku dengan pendampingan seorang penerjemah yang dijamin dapat menjaga kerahasiaan dan tak akan ada penyalahgunaan dan sandungan lainnya (kan. 990).

Disposisi yang diharapkan dari peniten dan menentukan keutuhan dan kesempurnaan penghapusan dosanya adalah: a) rasa penyesalan, b) pengakuan dosa, dan c) penerimaan penitensi/silih/denda/satisfactio dan memenuhi atau melaksanakannya. Jika umat ingin bertobat maka ia wajib mengakukan dosa berat dan ringan dengan dasar rasa sesal-tobat yang sungguh. Pengakuan dosa sebaiknya dilakukan minimal setahun sekali (sesuai hitungan tahun biasa, atau tahun liturgi: mulai dari Adven atau Paskah).

 

5.3 Materi dan Forma (kan. 959)

Materi: Dalam Sakramen Tobat umat beriman mengakukan, menyesal atas dosa-dosanya serta berniat untuk memperbaiki diri.

Forma: Saat simbolis terpenting adalah ketika imam menumpangkan tangan di atas kepala paniten selama mengucapkan formula absolusi:

Allah Bapa yang Mahamurah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam wafat dan kebangkitan Putra-Nya. Ia telah mencurahkan Roh Kudus demi pengampunan dosa. Dan pelayanan Gereja, Ia melimpahkan pengampunan dan damai kepada yang bertobat. Maka saya melepaskan saudara dari dosa-dosa saudara Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”.

 

5.4 Tempat dan Waktu (kan. 964)

Tempat perayaan sakramen ini adalah gedung gereja/kapel (kan. 964 § 1). Secara khusus dilakukan dalam kamar/bilik pengakuan yang dirancang khusus untuk perayaan Sakramen Tobat (entah yang menggunakan pembatas antara peniten dan imam, yang tertutup, atau yang dapat dilihat) (kan. 964 § 2). Kecuali ada alasan-alasan yang sah, pengakuan dapat dilakukan di luar kamar pengakuan (kan. 964 § 3).[22]

Waktu perayaan dapat dilakukan setiap hari, selama masa liturgi. Secara khusus masa pra-paskah adalah saat yang baik untuk mengajak umat merayakan sakramen ini, atau sering mengikuti ibadat/kebaktian tobat. Sebaiknya umat diberi informasi tentang saat dan tempat pelaksanaannya. Perayaan sakramen ini jangan dilakukan selama ada perayaan Ekaristi di dalam gereja (OP 13).

 

6. Refleksi atas Sakramen Tobat

Lewat sakramen inisiasi umat mendapat hidup baru dalam Kristus. Namun, karena kelemahan dan kerapuhan manusia hidup baru itu dicederai oleh dosa (bdk. 2Kor 4:7; 5:1).[23] Dosa[24] mengakibatkan putusnya relasi umat dengan Allah dan Gereja. Untuk memulihkan relasi yang putus karena dosa tersebut, maka umat diberi kesempatan untuk membaharui diri lewat Sakramen Tobat atau rekonsiliasi.[25]

 

6.1 Rekonsiliasi dengan Allah

Rekonsiliasi dapat dikatakan sebagai penataan ulang relasi yang putus dengan Allah, Gereja, dan seluruh ciptaan karena ulah dosa. Dengan sakramen ini umat memperoleh pengampunan dan belas kasih Allah atas penghinaan dan ketidaktaatan dalam hidupnya; sekaligus umat didamaikan dengan Gereja.[26] Tawaran rekonsiliasi ini datang dari Allah yang mengutus Putera-Nya untuk mendamaikan dan menebus seluruh dosa umat manusia. Aksioma rekonsiliasi ini adalah kurban Kristus dalam peristiwa Paskah (sengsara, wafat, dan bangkit). Hal ini jelas dikatakan dalam rumusan absolusi bahwa “Allah Bapa yang berbelas kasih telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya lewat wafat dan kebangkitan Putra-Nya.” Jadi, dalam Kristus relasi kita dengan Allah dipulihkan, didamaikan.[27]

Melalui Sakramen Baptis, umat menanggapi tawaran Allah itu dengan iman dan tobat. Dengan iman dan pertobatan umat diharapkan sungguh menjadi manusia baru dalam cinta kasih Allah. Namun karena kelemahan dan kerapuhan manusia, ia jatuh kembali pada kesalahan dan dosa yang sama. Akibatnya, relasi umat dengan Allah putus. Untuk memulihkan relasi ini umat harus berdamai dengan Allah lewat Sakramen Rekonsiliasi dengan perantaraan Gereja yakni para pelayannya.[28]

 

6.2 Rekonsiliasi dengan Gereja

Akibat dosa bukan hanya relasi dengan Allah yang putus, tetapi juga relasi dengan Gereja.[29] Gereja yang dimaksud adalah semua orang yang berkat Sakramen Baptis menjadi umat kudus Allah; di mana di dalamnya umat dilahirkan kembali menjdi satu saudara hidup bukan dari daging melainkan dari air dan Roh.[30] Dalam hal ini Rasul Paulus menggambarkan Gereja sebagai satu tubuh dengan fungsi masing-masing (1 Kor 12;12-31). Gereja sebagai satu tubuh mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain (1 Kor 12:26). Umat  seturut kapasitasnya ikut berpartisipasi dalam mewujudkan Gereja universal (kan. 204 § 1). Demikian halnya dengan seorang yang berdosa, Gereja sebagai satu tubuh ikut menderita. Oleh karena itu, lewat Sakramen Rekonsiliasi terjadilah pendamaian dengan seluruh warga Gereja. Dalam hal ini, imam menjadi representasi seluruh umat untuk memberi absolusi kepada umat atas dosanya. Dengan penitensi dan pertobatan yang terus-menerus dosa umat diampuni dan didamaikan kembali dengan Gereja.[31]

 

6.3 Rekonsiliasi dengan Semua Makhluk dan Alam Lingkungan

Rekonsiliasi dimengerti sebagai suatu pemulihan kembali hubungan manusia dengan semua makhluk dan alam lingkungan sehingga apa yang terjadi sebagai kejahatan di masa lampau tidak akan terjadi di masa mendatang.[32] Perbuatan dosa tentu melukai kehidupan bersama kita dengan Allah dan sesama terutama juga seluruh  Gereja. Akan tetapi, kita pun menyadari bahwa dosa itu juga merusak tata hubungan kita dengan semua makhluk dan alam lingkungan.[33]

Manusia dan alam ciptaan yang lain sedang kehilangan hidup karena ulah dan dosa manusia. Manusia kehilangan kesadaran bahwa ia bagian dari ciptaan. Hal ini menyebabkan manusia memandang semua makhluk dan alam ciptaan berguna sejauh menguntungkan. Segala kekayaan alam didekati sebagai sumber keuntungan melulu, yang dimanfaatkan tanpa batas.[34] Akibatnya manusia terus-menerus melakukan eksploitasi. Eksploitasi terhadap sesama manusia dan eksploitasi terhadap alam ciptaan.[35]

Tidak ada rekonsiliasi tanpa pertobatan. Oleh karena itu pertobatan dan pengampunan bukan prasyarat suatu rekonsiliasi, melainkan hasil atau dampak dari rekonsiliasi.[36] Pengalaman akan proses rekonsiliasi mengubah kita menjadi ciptaan baru. Apa yang menjadi suasana hidup kita sebelumnya diubah menjadi baru. Sakramen rekonsiliasi mengingatkan kita bahwa perdamaian itu juga mesti merangkum seluruh tata relasi kita dengan alam lingkungan. Maka, pertobatan manusia mestinya juga berdampak kepada pembangunan kembali alam lingkungan.[37]

6.4 Pengampunan Dosa dan Pembaharuan Hidup

Proses rekonsiliasi bukan suatu hasil karya manusia melulu, melainkan karya Allah di dalam diri manusia melalui Roh Kudus.[38] Sakramen Rekonsiliasi menganugerahkan Roh Kudus sebagai pengampunan dosa dan kekuatan untuk pembaharuan hidup. Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita adalah Roh kudus yang berperan mengampuni dosa.[39] Dalam pandangan Allah, kebenaran dosa tentang diri kita adalah, “kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Kudus (1 Kor 6:11).[40]

Tujuan pembaharuan hidup seseorang yang telah bertobat adalah menjadi serupa dengan Yesus Kristus dalam seluruh hidup, sabda, dan nasib-Nya. Menyerupai Yesus Kristus berarti memperoleh persekutuan dengan seluruh hidup, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Pembaharuan hidup dalam Roh mengingatkan kita pada nilai-nilai dasar injili yang intinya menyangkut seluruh Yesus Kristus juga.

Pengampunan yang dari Allah melalui sakramen rekonsiliasi selalu bersamaan dengan pilihan dasar orang-orang Kristiani pada pembaharuan hidup. Pilihan dasar ini harus dinyatakan sepenuhnya, dikuatkan, diwujudkan dalam sikap, keutamaan, dan dalam seluruh tindakannya. Pengampunan itu merupakan anugerah Allah tanpa batas. Allah tidak pernah berhenti mengaruniakan pengampunan kepada manusia. Sebagaimana Allah terus memberi pengampunan demikian seharusnya manusia terus-menerus membaharui hidup melalui pertobatan. Pengampunan itu menjadi berbuah melalui pembaharuan hidup.[41]

 

7. Indulgensi (kan. 992-994)

Indulgensi berasal dari bahasa Latin Indulgentia yang secara harfiah berarti kemurahan. Indulgensi ini merupakan kemurahan dari Allah yang dianugerahkan kepada seseorang melalui Gereja. Indulgensi berupa penghapusan hukuman sementara sebagai akibat dosa.[42] Kan. 992 merumuskan indulgensi ini demikian “indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi syarat-syarat tertentu, diperoleh dengan pertolongan Gereja sebagai pelayan keselamatan, berkuasa membebaskan dan mengeterapkan harta pemulihan kristus dan para kudus.”

KGK juga memberi definisi dari indulgensi,[43] sebagai berikut:

1) Penghapusan siksa dosa temporal: berarti bahwa indulgensi tidak dapat mengubah keputusan Tuhan bagi orang-orang yang berada di siksa dosa abadi atau neraka. Oleh karena itu, indulgensi hanya dapat diterapkan bagi orang-orang yang masih hidup di dunia ini dan juga yang masih berada di api penyucian. Dengan indulgensi, orang-orang yang masih hidup di dunia ini dapat menghindari siksa dosa sementara (di Api Penyucian)

2) Dosa-dosa yang sudah diampuni: berarti indulgensi mensyaratkan dosa-dosa yang sudah diampuni dan bukan dosa yang akan datang. Ini berarti pada waktu kita mendapatkan indulgensi dan kemudian berdosa lagi, maka kita juga perlu untuk mendapatkan indulgensi lagi untuk menghapuskan siksa dosa temporal.

3) Warga beriman Kristen: dalam hal ini adalah umat yang telah dibaptis. Kita tahu bahwa Sakramen Baptis adalah gerbang untuk semua sakramen dan berkat-berkat yang lain. Persyaratan yang lain adalah tidak terkena ekskomunikasi, dan dalam kondisi rahmat pada waktu melaksanakan indulgensi yang ditetapkan.

4) Yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang jelas: Ini berarti Gereja tidak mengharuskan seseorang untuk menerima indulgensi. Namun Gereja memberikan kesempatan yang begitu banyak, sehingga umat beriman dapat menarik manfaatnya dari berkat ini. Dan Gereja juga memberikan persyaratan yang jelas tentang bagaimana untuk memperoleh indulgensi.

5) Dengan bantuan Gereja: Telah dibahas di atas bahwa Yesus sendiri yang memberikan kuasa kepada Gereja untuk memberikan indulgensi kepada umat Allah melalui Gereja. Indulgensi ini hanya dapat diberikan oleh Paus dan orang-orang yang mempunyai kuasa oleh hukum yang diberikan oleh Paus.

6) Sebagian atau seluruhnya: Lama dari siksa dosa sementara di purgatorium tidak dapat ditentukan jangka waktunya. Gereja Katolik hanya memberikan indulgensi kepada umat sebagian atau seluruhnya, di mana sebagian berarti mengurangi waktu yang harus dijalankan di purgatorium, sedangkan seluruhnya berarti dibebaskan dari purgatorium.

Karena begitu pentingnya indulgensi dalam mencapai tujuan akhir, maka Gereja mengharuskan seluruh umat beriman untuk percaya akan dogma indulgensi. Konsili Trente mengatakan “Terkutuklah kepada siapa yang mengatakan bahwa indulgensi adalah tidak berguna atau mengatakan bahwa Gereja tidak mempunyai kuasa untuk memberikannya.”

Kan. 995 menggariskan siapa saja yang dapat memberi indulgensi. Orang-orang yang dapat memberi indulgensi selain Otoritas tertinggi Gereja adalah orang-orang yang diakui memiliki kuasa itu oleh hukum, atau yang diberi oleh Paus.

Gereja berkuasa memberikan indulgensi karena Tuhan Yesus Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada Gereja untuk melepaskan dan mengampuni orang berdosa. Agar seseorang dapat memperoleh indulgensi haruslah ia sudah dibaptis, tidak di ekskomunikasi, dalam keadaan rahmat sekurang-kurangnya pada akhir perbuatan-perbuatan yang diperintahkan dan hendaknya bermaksud memperoleh dan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang diwajibkan (kan. 996). Indulgensi dapat kita mohonkan baik untuk diri sendiri maupun untuk diri orang lain yang sudah meninggal.[44]

 

Kepustakaan

Bakok, N. Lalong. Menuju Dunia Baru. Ende: Nusa Indah, 2004.

Douglas, J.D. et al., (ed.). Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid I. Judul asli: The New Bible Dictionary). Diterjemahkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih. Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992.

Farrugia, O’Collins-Gerald-, Edward G. Kamus Teologi. Judul asli: A Concise Dictionary of Theology. Diterjemahkan oleh I. Suharyo. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Katekismus Gereja Katolik. Diterjemahkan oleh Herman Embuiru. Ende: Arnoldus, 1995.

Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Komisi Internasional untuk Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC). Buku Pegangan bagi Promotor Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Martasudjita, E. Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Schlink, Basilea. Hidup yang Dikuasai Roh. Malang: Gandum Mas, 1969.

Suryanugraha, C. H. “Perayaan Sakramen Rekonsiliasi”,  dalam Liturgi, Vol. 20, no. 4, Juli-Agustus 2009. Jakarta: Komisi Liturgi KWI, 2009.

Tim SKP Jayapura. Membangun Budaya Damai dan Rekonsiliasi. Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian, 2006.

Waskito, J. Terpanggil untuk Menjadi Kudus. Medan: Bina Media Perintis, 2005.

 


[1] N. Lalong Bakok, Menuju Dunia Baru (Ende: Nusa Indah, 2004), hlm. 278-279.

[2] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 309.

[3] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen ..., hlm. 312.

[4] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 313.

[5] J.D. Douglas et al., (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid I (judul asli: The New Bible Dictionary), diterjemahkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih  (Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992), hlm. 486.

[6] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 313.

[7] .D. Douglas et al., (ed.), Ensiklopedi i…, hlm. 486.

[8] J.D. Douglas et al., (ed.), Ensiklopedi i…, hlm. 486.

[9] Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 430.

[10] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 316.

[11] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 317.

[12] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 319-320.

 

[13] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 321-322.

[14] Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman …, hlm. 433-434.

[15] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 322-323.

[16] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen Rekonsiliasi”,  dalam Liturgi, Vol. 20, no. 4, Juli-Agustus 2009 (Jakarta: Komisi Liturgi KWI, 2009), hlm. 15.

 

[17] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen …, hlm. 15.

[18] Bdk. OP 31-32.

[19] SC No. 7A

[20] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen …, hlm. 15.

[21] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen , hlm. 16.

 

[22] Bdk. OP 12.

[23] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan oleh Herman Embuiru  (Ende: Arnoldus, 1995), nomor 1420.

[24] Dosa adalah setiap pikiran, kata-kata, dan tindakan yang menolak Allah. Dalam Perjanjian Lama, dosa dikenal sejak kejatuhan manusia pertama yakni Adam dan Hawa. [Lihat O’Collins-Gerald-Farrugia, Edward G. Kamus Teologi (Judul asli: A Concise Dictionary of Theology), diterjemahkan oleh I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm.59-60.]

[25] Sakramen rekonsiliasi adalah salah satu dari ketujuh sakramen Gereja yang diadakan oleh Yesus Kristus demi pengampunan dosa yang dilakukan sesudah dibaptis. Lewat sakramen ini umat diampuni dan diperdamaikan kembali dengan Allah. Dalam Injil, Kristus berhak mengampuni dosa (Mrk 2:5-11; Luk 7:36-50). Dan kuasa itu telah diberikan kepada para murid (Yoh 20:19-23). [Lihat O’Collins-Gerald-Farrugia, Edward G., Kamus Teologi ..., hlm. 286.]

[26] KGK no. 1422; bdk. LG no. 11.

[27] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 243; bdk. KGK  no. 1441-1442.

[28] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 324.

[29] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 325.

[30] LG no. 11.

[31] KGK  no. 1422; bdk. LG  no. 11.

[32] Tim SKP Jayapura, Membangun Budaya Damai dan Rekonsiliasi (Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian, 2006), hlm. 50; bdk. E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326.

[33] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326.

[34] Tim SKP Jayapura, Membangun …, hlm. 13.

[35] Komisi Internasional untuk Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC), Buku Pegangan bagi Promotor Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 16.

[36] Tim SKP Jayapura, Membangun …, hlm. 52.

[37] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326.

[38] Tim SKP Jayapura, Membangun …, hlm. 51.

[39] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326

[40] J. Waskito, Terpanggil untuk Menjadi Kudus (Medan: Bina Media Perintis, 2005), hlm. 68.

[41] Basilea Schlink, Hidup yang Dikuasai Roh (Malang: Gandum Mas, 1969), hlm. 80.

[42] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 329.

[43] Lih. KGK no. 1471.

[44] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 331.

Tentang lasnersiregar

aku adalah aku yang diakukan oleh aku yang lain Terimakasih bagi semua yang berkenan menerima saya menulis sesuatu di blog ini. Saya mau membagikan sedikit permenungan-pemenungan sehari-hari yang bisa menggugah hati, sekurang-kurangnya hatiku sendiri. Saya tidak pandai berkata-kata, tetapi saya mau mencoba lebih lagi. Salam sejahtera bagi kita semua.
Tulisan ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s