He Pingping Jadi Inspirasi Hidup

He Pingping, yang lahir dengan bentuk primordial dwarfisme, dengan tinggi badan 29 inci atau setara 73 centi meter, kahiran China menjadi pemegang rekor sebagai manusia terpendek di dunia sejak Maret 2008.

Craig Glenday, pimpinan Guinness World Records, sekaligus mengukur Pingping ke pedalaman Mongolia untuk mengkomfirmasi statusnya sebagai manusia terpendek di dunia.

“Sejak pertama kali aku melemparkan mata padanya, aku tahu bahwa dia adalah seorang yang istimewa, dia seperti tesenyum nakal. Anda tidak bisa membantunya, tetapi justru akan terpesona olehnya,” kata Glenday mengisahkan pertemuannya dengan Pingping.

“Dia selalu membangunkan semangat hidup tiap orang yang berada di sekitarnya, tiap orang yang ditemuinya. Dan tak jarang ia menjadi ispirasi hidup bagi siapapun yang merasa dianggap berbeda atau tidak biasa di lingkungannya,” tambah Glenday.

Tetapi kini dia telah meninggal dunia. Meningalkan senyuman, gairah hidup, kemenangan, dan inspirasi hidup bagi dunia.

Sebelum Pingping meninggal, ia tengah ditemani oleh adik iparnya dalam perjalanan ke Eropa utnuk film besutan Lo Show Dei Record. Siapa gerangan yang dapat mengantinya?

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup di tepi jalan dan ketika dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah” (Abu Bakar Sibli)

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

2000 Rupiah Untuk Pengamen

Sepulang dari kantor, Bagus berangkat ke SD St. Fransiskus Asisi Untuk menjemput putri bungsunya. Kegiatan ini sudah dilakoninya semenjak anak sulungnya sekolah di sana.

Benar, bahwa Sela sudah siap memasuki BMW hitam yang selalu dibawa ayahnya untuk menjemputnya

Jarak sekolah ke rumah mereka kira-kira 6 km. jalurnya harus melewati kota yang bising dan kerap macet.

“Pap…, Papa… tunggu sebentar, Sela mau turun.” Sela turun dari mobil kesayangan Bagus. Ia berlari ke arah anak kecil sembari mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikannya kepada anak kecil itu.

Dari jauh Bagus mengamati tindakan putrinya yang manis. “Mungkin anak kecil itu masih sebaya dengan Sela.” Bisiknya dalam hati.

“Dia senyum padaku Papa.” Ungkap Sela penuh bahagia.

“Apa yang kauberikan itu Sela?” Tanya Bagus pura-pura tidak tahu.

“Papa! Tadi mama memberi uang jajanku Rp.5000. Kubelanjakan Rp.2000 bersama dengan teman-temanku. Sisanya Rp.3000., Rp.1000 untuk kutabung dan Rp.2000 lagi untuk mereka yang sungguh membutuhkannya. Kebetulan kita lewat dan melihat pengamen. Mereka kan temanku juga Pap!”

Bagus tersenyum. Permenungan yang sangat berharga diterimanya lewat putri bungsunya. “Sela masih kecil sudah tahu beramal,” bisiknya dalam hati dengan penuh kebanggaan.

Kebahagiaan akan mengejar mereka yang memberikan kebahagiaan kepada orang lain.” (Darmo Raharjo).

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Tahu Tapi Tidak Sadar

Gustaf menghampiri Soni yang asyik membaca buku di salah satu ruangan kantor di mana mereka bekerja.

“ Bang Soni, kalau boleh tanya apa-apa saja  kegiatan abang selama satu Minggu?” selidik Gustaf seperti seorang wartawan.

“Padat Gus! Pagi setelah bangun tidur mandi, serapan, pergi ke kantor, pertemuan, baca buku, menulis berita  di sebuah majalah, di depan komputer, merokok,  menjemput ibu, kadang-kadang menemani papa meninjau sekolahnya, malamnya baca buku, nonton, di depan komputer, dll.” Jawab Soni dengan bangga.

“Kapan waktu olah raga atau refreshing ?”

“Waduh Gus, di jaman modern ini, kita tidak boleh menyia-siakan waktu. Olah raga, rekreasi, atau refreshing itu pekerjaan yang menyia-siakan waktu. Tanpa itu semua aku bisa sehat kok. Setiap hari bisa ngantor.” Jawabnya mantap seperti penasihat.

Seminggu kemudian,

Gustaf menjenguk Soni yang tergeletak lemah di unit no. 7 Rumah Sakit Mulia. Soni mengalami sakit yang tak terdeteksi.

“Banyak orang yang tahu tetapi tidak sadar. Kita tahu bahwa untuk menjaga kesehatan kita perlu berolah raga, tetapi kita tetap tidak berolah raga.” (Arvan Pradiansyah)

Kita tahu bahwa merokok itu berbahaya, tetapi kita tetap merokok.

Dipublikasi di cerita bermakna | 7 Komentar

Di mana Kebahagiaan Itu?

“Kakek kok kelihatan murung?” tanya Rio kepada kakeknya yang kebetulan duduk di ruang tamu.

“Oh ya, kok Rio tahu?”

“Ia dong Kek, dari raut muka kakek nampak kok.”

Senin hingga Minggu, Kakek Rio yang sudah lumayan tua tidak henti-hentinya bekerja. Ke kantor. Mengunjungi P.T. Sekolah. Club. Dll. Tidak ada waktu bersama  dengan keluarga.  Harta kekayaannya tidak terhitung karena banyaknya.

“Ih, kakek kok bisa sedih ya? Segala sesuatu ada pada Kakek?” Rio tidak tahu bahwa segala harta dan kekayaan akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan kebahagiaan.

Harta yang didapat dengan cepat dan tidak halal, akan menimbulkan ketidakbahagiaan. Jiwa yang damai akan menuai kebahagiaan.

“Orang yang korupsi dan serakah sebetulnya memiliki satu tujuan: kebahagiaan. Namun karena mereka menganggap dirinya hanya makhluk fisik, maka kebahagiaan itu diterjemahkan menjadi: mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Padahal harta yang mereka kumpulkan tidak akan pernah membuat mereka puas, tetapi hanya membuat mereka haus. Mereka tidak sadar bahwa sumber kebahagiaan yang abadi itu ada di dalam jiwa mereka sendiri. Mereka tidak pernah menyelami kekayaan terbesar yang mereka miliki itu.” (Arvan Pradiansyah)

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Saleh, di mana saja?

Bentuk hidup saleh itu berbeda pada pengusaha atau karyawan, presiden atau masyarakat, bapak atau ibu, kakak atau adik, janda atau gadis, mahasiswa atau buruh, dan lain-lain.

Selanjutnya harus disesuaikan dengan kekuatan, keadaan, dan kewajiban masing-masing.

Hidup saleh yang sejati tidak pernah merugikan, melainkan menyempurnakan apa yang kita lakukan. Hidup saleh yang bertentangan dengan martabat hidup seseorang itu jelas salah.

Lebah menghisap madu dari bunga tanpa merusakkannya, tetapi meninggalkannya utuh dan segar seperti waktu menemukannya. Hidup saleh masih lebih lagi: tidak hanya tidak merugikan martabat hidup, tetapi menghiasi dan memberikan keindahan-keindahan.

Berbagai macam permata direndam dalam madu menjadi lebih gemerlapan, setiap bentuk menurut warnanya. Begitu juga setiap orang menjadi lebih menarik dan lebih sempurna dalam panggilannya kalau ia mempersatukannya dengan hidup saleh.

Hidup saleh membuat hidup keluarga penuh damai, cinta suami-istri lebih jujur, penghambaan kepada raja lebih setia, dan setiap tugas menjadi menyenangkan penuh gembira.

“Di manapun kita berada, kita tidak hanya saleh tetapi harus mengusahakan kesempurnaan.” (Fransiskus dari Sales)

Dipublikasi di cerita bermakna | 2 Komentar

Jangan Khawatir !

Namanya Antonius, 18 tahun. Setelah orabg tuanya meninggal dunia, ia tinggal sendiri dengan satu-satunya adik wanitanya yang masih kecil. Ia menginginkan hidup yang sempurna di mata Tuhan.

Enam bulan berlalu setelah kematian orang tuanya, ia masuk ke dalam gereja. Kebetulan pada saat itu injil sedang  dibacakan.

“Jikalau engkau ingin menjadi sempurna, pergilah, juallah harta milikmu, dan berikanlah kepada orang miskin, dan engkau akan memiliki harta di surga, dan datanglah mengikuti aku.”

Selekas itu juga ia menjual peninggalan orang tuanya.

“Jangan kamu khawatir akan hari esok.”

Antonius menyerahkan adiknya kepada pengasuh yang dapat dipercaya untuk dididik.

Antonius bekerja dengan tangannya sendiri, karena ia mendengar bahwa,

“Barang siapa tidak bekerja, ia tidak boleh makan.”

Apa yang diperolehnya, sebagian untuk makan dan sebagiannya lagi diberikan kepada orang miskin. Ia terkenal dengan sebuatan sahabat Tuhan.

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Tidak Candu Tidak Memulai

Ketika ditanyai, mengapa Remi sampai terjerumus ke dalam dunia NARKOBA, ia menjawab:

“Aku cuma mau sedikit merayakan kemenangan.”

“Aku mau hidup di luar kungkungan keluarga yang membosankan.”

“Aku tidak terus-menerus memakainya.”

“Aku yakin aku bisa mengendalikan diri dan bisa berhenti kapanpun aku mau.”

“Aku tidak bakal kecanduan. Aku tidak pakai Kokain, Heroin, Putauw. Aku cuma menghisap sedikit Ganja.”

Remi tidak tahu bahwa sejalan dengan waktu, betapa rentan ia terhadap kecanduan.

Orang saleh mengatakan, jika kamu jauh dari Tuhan, tebaklah siapa yang akan bergerak?

Jalan terbaik untuk mencegah kecanduan adalah jangan pernah memulai.

“Buah anggur yang asam tidak akan menjadi minuman anggur yang manis.” (Thomas Fuller)

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Mau Berubah


Beberapa orang pemuda asyik ngobrol, menganalisa teman yang paling mereka sukai.

“Dia seorang yang hidup-hidup, lincah, optimis, dan riang.”

“Ramah dan mudah tersenyum.”

“Dia orang yang dapat dipercaya.”

“Cakep lagi!”

“Mudah menyesuaikan diri.”

Andaikan aku bisa seperti dia, kata salah satu dai pemuda itu membatin.

Pasti bisa jika kamu mau berubah!

“Kita semua sering memimpikan taman bunga mawar ajaib di balik cakrawala, padahal kita dapat menikmati mawar indah yang mekar dan berkembang hari ini di luar jendela rumah kita.” (Dale Chesterfield)

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Pohon yang Besar Tumbuh dari Biji yang Kecil


“Oh itu sudah saya duga. Saya tidak akan bisa.”

“Saya takut saya tidak dapat melakukannya.”

“Kemampuanku terlalu kerdil untuk mencapainya.”

Keluhan di atas adalah hal-hal kecil yang negatif. Pikiran tertentu saja lebih kuat daripada pikiran kecil, tetapi tidak pernah boleh dilupakan bahwa pohon yang besar tumbuh dari biji yang kecil.

Jika banyak sekali hal-hal kecil yang negatif memenuhi percakapan kita, itu semua pasti menyusup ke dalam pikiran kita. Mereka akan bertumbuh menjadi hal-hal besar yang negatif.

Cara terbaik untuk menyingkirkan mereka adalah dengan sengaja mengucapkan kata-kata yang positif tentang segalanya.

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Kebencian Mengacaukan Pikiran


“Aku punya masalah nih Bang! Aku kesal pada pacarku. Dua Minggu yang lalu ia marah-marah. Kemarin dia putusin aku. Aku kesal, benci, kan kubalas dia…..”

“Gadis, Gadis…! saya bisa merasakan kekecewaanmu, tapi cobalah dulu untuk tidak membiarkan kebencian merayap masuk, karena kebencian tidak hanya merusak jiwa, tetapi juga mengacaukan proses berpikir.”

“Jadi, aku harus gimana Bang? Pake filsafat lagi!”

“He he he… Coba minta pertolongan dan bimbingan Tuhan, supaya kalian baikan lagi. Gadis masih mencintai dia kan?”

“Ya Bang. Aku cinta mati padanya. Tapi masalahnya rumit Bang!?

“Gini aja deh Gadis. Coba tenangkan dulu pikiranmu beberapa jam, bahkan beberapa hari, kemudian berdoa, minta bimbingan Tuhan supaya Dia memberitahukan padamu langkah yang tepat pada apa yang harus Gadis lakukan.”

“oke deh Bang, kan kucoba. Terima kasih ya Bang!”

“Your welcome!”

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

I Love My Body


Rio adalah cowok yang luar bisa bahagia.

“Rio, koq ceria banget tiap hari. Koq bisa ya?” tanya Agus yang jauh lebih cakep dari Rio dari segi fisik.

“I love my body!” jawabnya singkat.

“Tubuhku adalah karunia dari Tuhan yang sungguh menakjubkan dan merupakan suatu keajaiban yang luar biasa. Aku selalu bersyukur walau hanya mempunyai satu tangan.”

“Aku sehat, cara makanku terkontrol, tidak merokok, apalagi narkoba. Aku telah meninggalkan minuman keras, tidak lagi gagah-gagahan ngebut di jalanan.”

“Aku bersyukur, Tuhan tetap membangunkanku di pagi hari.”

“Abrahan Lincoln, negarawan, Presiden Amerika ke 16 mengatakan bahwa kebanyakan orang akan dapat merasa bahagia apabila mereka mau menjernihkan pikirannya.”

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

SAKRAMEN TOBAT

1. Pengantar

Untuk mencapai persekutuan dengan Allah, umat manusia tidak pernah terlepas dari dosa. 1 Yoh 1:8-10,2:1 mengatakan: “Kalau kita mengakukan dosa-dosa kita, maka Dia yang adalah setia dan suci akan mengampuni dosa-dosa kita dan akan menyucikan kita dari setiap pencemaran.[1] Dosa mengakibatkan sulitnya membangun kehidupan bersama dengan Allah dari pihak kita (manusia).[2]

Tulisan yang sederhana ini akan mencoba memaparkan bagaimana sakramen tobat itu harus dilakukan dan dilaksanakan. Pemaparan ini diawali dengan pengertian sakramen tobat sendiri, kemudian sakramen tobat dalam bingkai sejarah, dasar biblis, dan tujuannya. Selanjutnya pemaparan perayaan Sakramen Tobat, unsur-unsur utama dalam perayaan Sakramen Tobat, refleksi atas Sakramen Tobat, dan diakhiri dengan pemaparan secara singkat tentang indulgensi.

2. Pengertian Sakramen Tobat

Sakramen tobat dalam KHK diketengahkan dalam tugas Gereja menuduskan. Pembahasan mengenai sakramen tobat termuat dalam judul IV, dimulai dari Kan. 959-997, dibagi dalam 4 bab. Bab I: Perayaan sakramen tobat (Kan. 960-964), Bab II: Pelayanan sakramen tobat (Kan. 965-986), Bab III: Peniten sendiri (Kan. 987-991) dan Bab IV: Indulgensi (Kan. 992-997).

Sakramen-sakramen dalam Gereja dimaksudkan untuk menguduskan manusia, membangun Tubuh Kristus dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah (SC. 59). Salah satu dari tujuh sakramen dalam Gereja Katolik adalah sakramen tobat (SC.72). Sakramen Tobat ini disebut juga dengan istilah “rekonsiliasi”. Istilah rekonsiliasi untuk mengungkapkan sakramen tobat lazim digunakan dalam Gereja abad I dan teologi; liturgi Sakramen Tobat sekarang ini kembali menggunakan istilah rekonsiliasi. Reconciliatio (Latin) mengungkapkan inisiatif Allah yang lebih dahulu menawarkan perdamaian kepada umat-Nya (pendamaian dengan Allah), pendamaian kita dengan sesama dan seluruh alam ciptaan sebagai dimensi sosial dan ekologis, dan penyembuhan yang bermakna penemuan kembali kehidupan damai pada hati orang yang bertobat dan telah menerima pengampunan dosa.[3]

3. Pertobatan dalam Bingkai Sejarah

3.1 Pertobatan dalam Kitab Suci

3.1.1 Perjanjian Lama

Kata Ibrani syuv berarti berputar, berbalik kembali. Hal itu mengacu pada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama, kata yang dipakai untuk pertobatan adalah “kembalilah” (Yer 3:14), “berbalik” (Mzm 78:34), dan “bertobat” (Yer 18:8). Perjanjian Lama jarang sekali mencatat pertobatan individual (Mzm 51:14) tetapi menubuatkan pertobatan ‘segala ujung bumi’ kepada Allah (Mzm 22:28). Kalau seluruh bangsa ingin kembali damai dan sejahtera, mereka harus bertobat. Pertobatan itu bisa merupakan pertobatan yang diungkapkan dalam bentuk tanda atau pun acara kultis, seperti berkumpul untuk mengaku dosa (Ezr 9:13; Neh 9:36-37), berpuasa (Neh 9:1; Yl 1:14), mengenakan kain kabung (Neh 9:1; Yl 1:13), duduk di atas abu atau menaburkan abu di kepala (Yer 6:26; Yun 3:6), dan menyampaikan korban bakaran (Im 16:1-19).[4]

Perjanjian Lama menekankan bahwa cakupan pertobatan melebihi duka-cita penyesalan dan perubahan tingkah laku lahiriah. Dalam keadaan apa pun, pertobatan yang sungguh kepada Allah mencakup perendahan diri batiniah, perubahan hati yang sungguh, dan benar-benar merindukan Yahweh (Ul 4:29; 30:2,10; Yes 6:9; Yer 24:7), disertai pengenalan yang jelas dan baru akan Diri-Nya dan jalan-Nya (Yer 24:7; bdk. 2 Raj 5:15; 2 Taw 33:13).[5] Pertobatan batin ini harus juga berdampak sosial, “Bukan Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7). Namun, akhirnya seluruh pertobatan itu adalah karunia Allah. Allah menganugerahkan hati yang murni dan baru sehingga orang mau bertobat (bdk. Mzm 51:12; Yer 31:33).[6]

 

3.1.2 Perjanjian Baru

Ada dua istilah yang dipakai oleh Perjanjian Baru berkaitan dengan pertobatan, yakni metanoia dan epistrefô. Kata metanoia muncul dalam Perjanjian Baru kira-kira 58 kali dan selalu diterjemahkan “bertobat”, kecuali Luk 17:3 (‘menyesal’) dan Ibr 12:17 (‘memperbaiki kesalahan’, yang lebih merupakan tafsiran ketimbang terjemahan). Arti asasi kata metanoia adalah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, dan pandangan. Sementara kata epistrefô muncul kira-kira 30 kali. Dalam arti harafiah kata ini diterjemahkan ‘kembali’ atau ‘berpaling’ (Mat 10:13; 24:18; Kis 16:18; Why 1:12). Kata kerja biasa strefo juga diterjemahkan ‘bertobat’ dalam Mat 18:3.[7]

Jadi epistrefô menunjuk kepada tindakan ‘putar balik’ atau ‘pertobatan’ kepada Allah, unsur yang sangat menentukan dan dengan itu orang berdosa masuk ke dalam eskatologis Kerajaan Allah melalui iman dalam Yesus Kristus dan menerima pengampunan dosa. Tindakan ini menjamin perolehan keselamatan yang dibawa oleh Kristus, dan sifatnya adalah sekali untuk selamanya.[8]

Sejak awal karya publik-Nya, Yesus mewartakan perlunya pertobatan untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1:15). Sejak itu seruan tobat bergema dalam seluruh Perjanjian Baru. Bersama dengan itu juga  didengar kata-kata mengenai pengampunan. Bagi Diri-Nya sendiri Yesus menuntut hak dan wewenang untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10), dan sebelum meninggalkan para Rasul, kepada mereka pun Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:23). [9]

 

3.2 Sakramen Tobat dalam Praksis dan Ajaran Gereja

3.2.1 Rekonsiliasi Jemaat menurut Model Tobat Publik pada Zaman Patristik

Dari kesaksian Surat Klemens (tahun 93-97) diungkapkan model pertobatan dengan pengakuan dosa. Demikian pula pada pertengahan abad II, Didache menyatakan bahwa pengakuan dosa dan pengampunan dosa menjadi pengandaian seseorang boleh ikut Perayaan Ekaristi. Tertulianus pada akhir abad II menyebut tobat publik. Tobat publik ini diperuntukkan bagi warga Gereja yang melakukan dosa berat dan dilaksanakan sekali saja seumur hidup.[10]

3.2.2 Tobat Pribadi atau Pengakuan Dosa Pribadi sejak Abad VI

Praktik yang berat dari tobat publik (sekali saja seumur hidup) membuat orang cenderung menghindarinya dan baru menerimanya menjelang datangnya ajal. Tobat pribadi menjadi solusi untuk ini. Tobat ini berasal dari para rahib Irlandia pada abad VI. Mulai tahun 800, tobat publik sudah mendominasi seluruh Gereja Barat. Pada abad XIII, tobat pribadi diterima dan diajarkan dengan resmi oleh Gereja melalui Konsili Lateran IV (1215).[11]

3.2.3 Teologi Skolastik mengenai Sakramen Tobat

Tekanan teologi skolastik mengenai sakramen Tobat pada umumnya adalah ciri pengadilan dari sakramen Tobat tersebut. Pokok yang didiskusikan adalah kuasa imam untuk memberikan absolusi atau pelepasan dari dosa.[12]

2.2.4 Ajaran Resmi Gereja pada Abad Pertengahan mengenai Sakramen Tobat

Konsili Lateran IV (1215) mewajibkan semua umat beriman untuk mengaku dosa di hadapan imam sedikitnya sekali setahun dan untuk berusaha melakukan penitensi (DH 812). Konsili Trente (1551) menegaskan ajaran tentang sakramen Tobat sebagai berikut:

–         Sakramen Tobat ditetapkan oleh Kristus sendiri dan dapat diulangi

–         Gereja mempunyai kuasa untuk melepaskan dan mengampuni dosa

–         Pengakuan sakramental di hadapan imam sesuai dengan perintah Kristus dan ditetapkan oleh hukum ilahi

–         Menurut hukum Ilahi, pengakuan pribadi atas dosa berat adalah keharusan

–         Semua orang kristiani wajib mengaku dosa sekali setahun

–         Hanya imam, juga kalau ia berdosa berat, yang mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan dosa.[13]

 

3.2.5 Sakramen Tobat dalam Semangat Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II meninjau kembali Sakramen Tobat. Pertama-tama, konsili memakai lagi istilah ” Sakramen Tobat”, sebab yang terpenting dalam sakramen ini adalah ”tobat” dan ”orang beriman yang bertobat” (LG 28). Hubungan antara Sakramen Tobat dengan Gereja juga ditekankan oleh konsili (LG 11). Yang harus dilakukan oleh pentobat dalam Sakramen Tobat ada dua hal, yakni pengakuan dan penitensi (denda); hendaknya ia juga menyatakan tobatnya dengan laku tapa dan mati raga sukarela.[14]

Atas kehendak Konsili Vatikan II, disusunlah buku perayaan Sakramen Tobat yang baru, ”Ordo Penitentiae” (1973). Dalam pedoman umum ini ditampakkan dimensi ekklesial dan perayaan dari sakramen Tobat.[15]

 

4. Perayaan Sakramen Tobat (kan. 960-964)

4.1 Ritus Rekonsiliasi secara Pribadi[16]

Ritus ini merupakan pembaruan dari cara pengakuan pribadi tradisional (Konsili Trente). Unsur baru itu adalah pewartaan Sabda Allah, yang dapat juga dilakukan oleh peniten, entah pada saat perayaan pengakuan atau pemeriksaan batin; kemudian diikuti dengan pengakuan dosa-dosa di tempat khusus, beberapa nasihat dari bapa pengakuan, penumpangan tangan dan penerimaan penitensi.

Si peniten diminta untuk menyatakan rasa sedih dan sesal seraya mengucapkan salah satu rumus yang tersedia (doa tobat); kemudian bapa pengakuan memberi absolusi.

Seraya mengucapkan absolusi ini, bapa pengakuan membuat tanda salib dan si peniten membuat tanda salib pada dirinya. Ritus ditutup dengan ucapan terima kasih dan pengutusan si peniten.

Skema ringkas: Pemeriksaan batin, Tanda salib dan salam imam, Liturgi Sabda, Pengakuan dosa, Nasihat, Doa tobat (doa oleh si peniten), Absolusi, Ucapan syukur, dan Perutusan.

 

4.2 Ritus Rekonsiliasi untuk Beberapa Peniten dengan Pengakuan dan Absolusi Perorangan

Ritus ini merupakan cara baru yang mengajak peniten untuk melakukan persiapan bersama, namun kemudian dapat diteruskan dengan pengakuan pribadi.

Bagian pertama ritus ini sungguh merupakan liturgi sabda:

  • Nyanyian pembukaan
  • Salam dari imam
  • Doa oleh imam
  • Pewartaan sabda Allah
  • Homili
  • Pemeriksaan batin (silentium atau terpimpin)
  • Pengakuan umum (misalnya confiteor)
  • Doa litani (dalam bentuk universal, doa umat)
  • Doa Bapa Kami
  • Doa oleh imam

Bagian kedua:

  • Sesudah bagian pertama selesai, bapa pengakuan beranjak ke tempat yang sudah tersedia di mana dia menerima para peniten dan untuk mendengarkan pengakuan secara pribadi.
    • Pengakuan dosa, nasihat singkat, ucapan syukur, berkat dan pengutusan.[17]

 

4.3 Rekonsiliasi untuk Beberapa Peniten dengan Pengakuan dan Absolusi Umum

Ritus ini sama sekali baru. Ada tiga versi: lengkap, pendek, dan darurat. Ritus ini baru berlaku untuk saat-saat khusus yang tidak lazim atau keadaan memaksa, dan diselenggarakan dengan seizin uskup setempat (kan. 961 § 1).[18] Keadaan memaksa/darurat itu, misalnya, a) dalam bahaya maut dan tidak terdapat cukup waktu dan imam untuk mendengarkan pengakuan perorangan (saat perang, kebakaran, atau bencana alam) (Kan. 961 § 1 no. 1), atau b) karena jumlah peniten yang banyak sementara jumlah imam dan waktu yang ada tidak memadai untuk mendengarkan pengakuan perorangan (Kan. 961 § 1 no. 2), (saat peziarahan atau menjelang masa-masa pesta lirturgis/menjelang paskah/natal).

 

5. Unsur-unsur Utama dalam Perayaan Sakramen Tobat

5.1 Pelayan Sakramen Tobat (kan. 965-984)

Dalam Gereja katolik, hanya imam yang diberi wewenang untuk melayankan Sakramen Tobat. Wewenang itu diperoleh berkat tahbisan suci dan mempunyai yurisdiksi (Kan. 965). Yurisdiksi penitensial itulah yang menyebabkan validitas dan layak/licitnya pelayanan dan absolusinya. Mereka ini (Imam dan Uskup) adalah pelayan pertobatan baik dalam pertobatan maupun dalam liturgi sakramental tobat. Mereka sering disebut dengan bapa pengakuan. “Bapa pengakuan adalah tanda kasih Bapa yang ditunjukkan dalam Putera yang dalam kerajaan-Nya menghadirkan karya penebusan dan dengan kuasa-Nya hadir dalam sakramen-sakramen.”[19]

Kuasa kewenangan menerima dan memberi kewenangan menerima Sakramen Tobat:

  • Di samping Paus, para Kardinal memiliki dari hukum kewenangan untuk menerima pengakuan umat beriman kristiani di mana pun di seluruh dunia; demikian pula para Uskup boleh menggunakannya di mana saja, kecuali jika Uskup diosesan dalam kasus tertentu melarangnya (kan. 967 § 1).
  • Wewenang itu juga dimiliki oleh Ordinaris wilayah, kanonilk panitensiaris, dan juga pastor-paroki, serta yang lain yang menggantikan kedudukan pastor paroki (kan. 968 § 1).
  • Juga dimiliki oleh Pemimpin tarekat religius atau serikat hidup kerasulan jika tarekat itu bersifat klerikal tingkat kepausan, yang menurut norma konstitusi memiliki kuasa kepemimpinan eksekutif, dengan tetap berlaku ketentuan kan. 630 § 4 (kan. 968 § 2).
  • Ordinaris wilayah berwenang memberikan kewenangan untuk mendengar pengakuan umat beriman manapun kepada imam-imam siapa pun; akan tetapi para imam yang menjadi anggota tarekat-tarekat religius jangan menggunakan kewenangan itu tanpa izin dari pemimpinnya (kan. 969).
  • Kewenangan untuk menerima pengakuan secara tetap hendaknya diberikan secara tertulis (kan. 973).
  • Ordinaris wilayah, dan juga pemimpin yang berwenang, janganlah menarik kembali kewenangan mendengarkan pengakuan yang telah diberikan secara tetap kecuali atas alasan yang berat (kan. 974 § 1).
  • Jika kewenangan untuk menerima pengakuan ditarik kembali oleh Ordinaris wilayah yang memberinya, maka imam kehilangan kewenangan itu di mana pun; jika Kewenangan itu dicabut oleh Ordinaris wilayah lain, ia kehilangan kewenangan hanya di wilayah Ordinaris yang mencabutnya itu (kan. 974 § 2)
  • Jika kewenangan untuk menerima pengakuan ditarik kembali oleh pemimpin tertingginya sendiri, maka imam kehilangan kewenangan itu di mana pun terhadap anggota-anggota dari tarekat itu; akan tetapi jika kewenangan itu dicabut oleh pemimpin lain yang berwenang, ia kehilangan kewenangan hanya terhadap mereka yang menjadi bawahan pemimpin itu (kan. 974 § 4).
  • Pembimbing novis serta pembantunya, rektor seminari atau lembaga pendidikan lain hendaknya  jangan mendengar pengakuan para siswa yang berdiam dalam rumah yang sama bersamanya, kecuali jika para siswa itu dari kehendaknya sendiri memintanya dalam kasus-kasus khusus.
  • Dalam keadaan darurat semua bapa pengakuan wajib menerima pengakuan umat beriman, dan dalam bahaya mati semua imam mempunyai kewajiban itu (kan. 986 § 2)

Imam sebagai pelayan Gereja adalah sekaligus hakim dan tabib, pelayan keadilan belas kasih Allah (kan. 978 § 1). Nasihat yang diberikan oleh mereka hendaknya bersifat membebaskan dan memulihkan si peniten. Imam sebagai pelayan terikat pada rahasia sakramental pengakuan dosa. Rahasia ini tidak dapat diganggu-gugat. Seorang imam yang melayankan sakramen tobat tidak boleh membocorkan rahasia pengakuan dosa (kan. 983). Imam yang melakukan pelanggaran ini dapat dikenai hukum ekskomunikasi/dicabut wewenangnya.[20]

Tugas dan kewajiban imam sebagai pelayan sakramen tobat adalah sebagai berikut:

  • Siap menerima kapan pun bila ada yang mau mengaku dosa dan terikat mendengarkan pengakuan.
  • Tampil sebagai hakim spiritual yang bijaksana.
  • Melepaskan dosa-dosa melalui peniten yang resmi.
  • Dapat juga menolak atau menunda memberikan absolusi jika peniten belum layak menerimanya.
  • Sebagai dokter/tabib/ penyembuh dan bapa spiritual ia menyelidiki penyebab dosa itu dan memberikan ”obat” untuk menyembuhkannya.
  • Jika salah dalam hal memberikan nasihat kepada peniten, ia harus meralat kesalahannya menyangkut keabsahan sakramental.[21]

5.2 Peniten atau Pentobat (kan. 987-991)

Yang boleh mengaku dosa adalah orang beriman kristiani yang menyesali dosa dan berniat memperbaiki diri, bertobat kembali kepada Allah (kan. 987). Ia bebas memilih imam kepada siapa hendak mengaku dosa. Ia mengaku dengan pendampingan seorang penerjemah yang dijamin dapat menjaga kerahasiaan dan tak akan ada penyalahgunaan dan sandungan lainnya (kan. 990).

Disposisi yang diharapkan dari peniten dan menentukan keutuhan dan kesempurnaan penghapusan dosanya adalah: a) rasa penyesalan, b) pengakuan dosa, dan c) penerimaan penitensi/silih/denda/satisfactio dan memenuhi atau melaksanakannya. Jika umat ingin bertobat maka ia wajib mengakukan dosa berat dan ringan dengan dasar rasa sesal-tobat yang sungguh. Pengakuan dosa sebaiknya dilakukan minimal setahun sekali (sesuai hitungan tahun biasa, atau tahun liturgi: mulai dari Adven atau Paskah).

 

5.3 Materi dan Forma (kan. 959)

Materi: Dalam Sakramen Tobat umat beriman mengakukan, menyesal atas dosa-dosanya serta berniat untuk memperbaiki diri.

Forma: Saat simbolis terpenting adalah ketika imam menumpangkan tangan di atas kepala paniten selama mengucapkan formula absolusi:

Allah Bapa yang Mahamurah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam wafat dan kebangkitan Putra-Nya. Ia telah mencurahkan Roh Kudus demi pengampunan dosa. Dan pelayanan Gereja, Ia melimpahkan pengampunan dan damai kepada yang bertobat. Maka saya melepaskan saudara dari dosa-dosa saudara Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”.

 

5.4 Tempat dan Waktu (kan. 964)

Tempat perayaan sakramen ini adalah gedung gereja/kapel (kan. 964 § 1). Secara khusus dilakukan dalam kamar/bilik pengakuan yang dirancang khusus untuk perayaan Sakramen Tobat (entah yang menggunakan pembatas antara peniten dan imam, yang tertutup, atau yang dapat dilihat) (kan. 964 § 2). Kecuali ada alasan-alasan yang sah, pengakuan dapat dilakukan di luar kamar pengakuan (kan. 964 § 3).[22]

Waktu perayaan dapat dilakukan setiap hari, selama masa liturgi. Secara khusus masa pra-paskah adalah saat yang baik untuk mengajak umat merayakan sakramen ini, atau sering mengikuti ibadat/kebaktian tobat. Sebaiknya umat diberi informasi tentang saat dan tempat pelaksanaannya. Perayaan sakramen ini jangan dilakukan selama ada perayaan Ekaristi di dalam gereja (OP 13).

 

6. Refleksi atas Sakramen Tobat

Lewat sakramen inisiasi umat mendapat hidup baru dalam Kristus. Namun, karena kelemahan dan kerapuhan manusia hidup baru itu dicederai oleh dosa (bdk. 2Kor 4:7; 5:1).[23] Dosa[24] mengakibatkan putusnya relasi umat dengan Allah dan Gereja. Untuk memulihkan relasi yang putus karena dosa tersebut, maka umat diberi kesempatan untuk membaharui diri lewat Sakramen Tobat atau rekonsiliasi.[25]

 

6.1 Rekonsiliasi dengan Allah

Rekonsiliasi dapat dikatakan sebagai penataan ulang relasi yang putus dengan Allah, Gereja, dan seluruh ciptaan karena ulah dosa. Dengan sakramen ini umat memperoleh pengampunan dan belas kasih Allah atas penghinaan dan ketidaktaatan dalam hidupnya; sekaligus umat didamaikan dengan Gereja.[26] Tawaran rekonsiliasi ini datang dari Allah yang mengutus Putera-Nya untuk mendamaikan dan menebus seluruh dosa umat manusia. Aksioma rekonsiliasi ini adalah kurban Kristus dalam peristiwa Paskah (sengsara, wafat, dan bangkit). Hal ini jelas dikatakan dalam rumusan absolusi bahwa “Allah Bapa yang berbelas kasih telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya lewat wafat dan kebangkitan Putra-Nya.” Jadi, dalam Kristus relasi kita dengan Allah dipulihkan, didamaikan.[27]

Melalui Sakramen Baptis, umat menanggapi tawaran Allah itu dengan iman dan tobat. Dengan iman dan pertobatan umat diharapkan sungguh menjadi manusia baru dalam cinta kasih Allah. Namun karena kelemahan dan kerapuhan manusia, ia jatuh kembali pada kesalahan dan dosa yang sama. Akibatnya, relasi umat dengan Allah putus. Untuk memulihkan relasi ini umat harus berdamai dengan Allah lewat Sakramen Rekonsiliasi dengan perantaraan Gereja yakni para pelayannya.[28]

 

6.2 Rekonsiliasi dengan Gereja

Akibat dosa bukan hanya relasi dengan Allah yang putus, tetapi juga relasi dengan Gereja.[29] Gereja yang dimaksud adalah semua orang yang berkat Sakramen Baptis menjadi umat kudus Allah; di mana di dalamnya umat dilahirkan kembali menjdi satu saudara hidup bukan dari daging melainkan dari air dan Roh.[30] Dalam hal ini Rasul Paulus menggambarkan Gereja sebagai satu tubuh dengan fungsi masing-masing (1 Kor 12;12-31). Gereja sebagai satu tubuh mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain (1 Kor 12:26). Umat  seturut kapasitasnya ikut berpartisipasi dalam mewujudkan Gereja universal (kan. 204 § 1). Demikian halnya dengan seorang yang berdosa, Gereja sebagai satu tubuh ikut menderita. Oleh karena itu, lewat Sakramen Rekonsiliasi terjadilah pendamaian dengan seluruh warga Gereja. Dalam hal ini, imam menjadi representasi seluruh umat untuk memberi absolusi kepada umat atas dosanya. Dengan penitensi dan pertobatan yang terus-menerus dosa umat diampuni dan didamaikan kembali dengan Gereja.[31]

 

6.3 Rekonsiliasi dengan Semua Makhluk dan Alam Lingkungan

Rekonsiliasi dimengerti sebagai suatu pemulihan kembali hubungan manusia dengan semua makhluk dan alam lingkungan sehingga apa yang terjadi sebagai kejahatan di masa lampau tidak akan terjadi di masa mendatang.[32] Perbuatan dosa tentu melukai kehidupan bersama kita dengan Allah dan sesama terutama juga seluruh  Gereja. Akan tetapi, kita pun menyadari bahwa dosa itu juga merusak tata hubungan kita dengan semua makhluk dan alam lingkungan.[33]

Manusia dan alam ciptaan yang lain sedang kehilangan hidup karena ulah dan dosa manusia. Manusia kehilangan kesadaran bahwa ia bagian dari ciptaan. Hal ini menyebabkan manusia memandang semua makhluk dan alam ciptaan berguna sejauh menguntungkan. Segala kekayaan alam didekati sebagai sumber keuntungan melulu, yang dimanfaatkan tanpa batas.[34] Akibatnya manusia terus-menerus melakukan eksploitasi. Eksploitasi terhadap sesama manusia dan eksploitasi terhadap alam ciptaan.[35]

Tidak ada rekonsiliasi tanpa pertobatan. Oleh karena itu pertobatan dan pengampunan bukan prasyarat suatu rekonsiliasi, melainkan hasil atau dampak dari rekonsiliasi.[36] Pengalaman akan proses rekonsiliasi mengubah kita menjadi ciptaan baru. Apa yang menjadi suasana hidup kita sebelumnya diubah menjadi baru. Sakramen rekonsiliasi mengingatkan kita bahwa perdamaian itu juga mesti merangkum seluruh tata relasi kita dengan alam lingkungan. Maka, pertobatan manusia mestinya juga berdampak kepada pembangunan kembali alam lingkungan.[37]

6.4 Pengampunan Dosa dan Pembaharuan Hidup

Proses rekonsiliasi bukan suatu hasil karya manusia melulu, melainkan karya Allah di dalam diri manusia melalui Roh Kudus.[38] Sakramen Rekonsiliasi menganugerahkan Roh Kudus sebagai pengampunan dosa dan kekuatan untuk pembaharuan hidup. Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita adalah Roh kudus yang berperan mengampuni dosa.[39] Dalam pandangan Allah, kebenaran dosa tentang diri kita adalah, “kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Kudus (1 Kor 6:11).[40]

Tujuan pembaharuan hidup seseorang yang telah bertobat adalah menjadi serupa dengan Yesus Kristus dalam seluruh hidup, sabda, dan nasib-Nya. Menyerupai Yesus Kristus berarti memperoleh persekutuan dengan seluruh hidup, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Pembaharuan hidup dalam Roh mengingatkan kita pada nilai-nilai dasar injili yang intinya menyangkut seluruh Yesus Kristus juga.

Pengampunan yang dari Allah melalui sakramen rekonsiliasi selalu bersamaan dengan pilihan dasar orang-orang Kristiani pada pembaharuan hidup. Pilihan dasar ini harus dinyatakan sepenuhnya, dikuatkan, diwujudkan dalam sikap, keutamaan, dan dalam seluruh tindakannya. Pengampunan itu merupakan anugerah Allah tanpa batas. Allah tidak pernah berhenti mengaruniakan pengampunan kepada manusia. Sebagaimana Allah terus memberi pengampunan demikian seharusnya manusia terus-menerus membaharui hidup melalui pertobatan. Pengampunan itu menjadi berbuah melalui pembaharuan hidup.[41]

 

7. Indulgensi (kan. 992-994)

Indulgensi berasal dari bahasa Latin Indulgentia yang secara harfiah berarti kemurahan. Indulgensi ini merupakan kemurahan dari Allah yang dianugerahkan kepada seseorang melalui Gereja. Indulgensi berupa penghapusan hukuman sementara sebagai akibat dosa.[42] Kan. 992 merumuskan indulgensi ini demikian “indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi syarat-syarat tertentu, diperoleh dengan pertolongan Gereja sebagai pelayan keselamatan, berkuasa membebaskan dan mengeterapkan harta pemulihan kristus dan para kudus.”

KGK juga memberi definisi dari indulgensi,[43] sebagai berikut:

1) Penghapusan siksa dosa temporal: berarti bahwa indulgensi tidak dapat mengubah keputusan Tuhan bagi orang-orang yang berada di siksa dosa abadi atau neraka. Oleh karena itu, indulgensi hanya dapat diterapkan bagi orang-orang yang masih hidup di dunia ini dan juga yang masih berada di api penyucian. Dengan indulgensi, orang-orang yang masih hidup di dunia ini dapat menghindari siksa dosa sementara (di Api Penyucian)

2) Dosa-dosa yang sudah diampuni: berarti indulgensi mensyaratkan dosa-dosa yang sudah diampuni dan bukan dosa yang akan datang. Ini berarti pada waktu kita mendapatkan indulgensi dan kemudian berdosa lagi, maka kita juga perlu untuk mendapatkan indulgensi lagi untuk menghapuskan siksa dosa temporal.

3) Warga beriman Kristen: dalam hal ini adalah umat yang telah dibaptis. Kita tahu bahwa Sakramen Baptis adalah gerbang untuk semua sakramen dan berkat-berkat yang lain. Persyaratan yang lain adalah tidak terkena ekskomunikasi, dan dalam kondisi rahmat pada waktu melaksanakan indulgensi yang ditetapkan.

4) Yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang jelas: Ini berarti Gereja tidak mengharuskan seseorang untuk menerima indulgensi. Namun Gereja memberikan kesempatan yang begitu banyak, sehingga umat beriman dapat menarik manfaatnya dari berkat ini. Dan Gereja juga memberikan persyaratan yang jelas tentang bagaimana untuk memperoleh indulgensi.

5) Dengan bantuan Gereja: Telah dibahas di atas bahwa Yesus sendiri yang memberikan kuasa kepada Gereja untuk memberikan indulgensi kepada umat Allah melalui Gereja. Indulgensi ini hanya dapat diberikan oleh Paus dan orang-orang yang mempunyai kuasa oleh hukum yang diberikan oleh Paus.

6) Sebagian atau seluruhnya: Lama dari siksa dosa sementara di purgatorium tidak dapat ditentukan jangka waktunya. Gereja Katolik hanya memberikan indulgensi kepada umat sebagian atau seluruhnya, di mana sebagian berarti mengurangi waktu yang harus dijalankan di purgatorium, sedangkan seluruhnya berarti dibebaskan dari purgatorium.

Karena begitu pentingnya indulgensi dalam mencapai tujuan akhir, maka Gereja mengharuskan seluruh umat beriman untuk percaya akan dogma indulgensi. Konsili Trente mengatakan “Terkutuklah kepada siapa yang mengatakan bahwa indulgensi adalah tidak berguna atau mengatakan bahwa Gereja tidak mempunyai kuasa untuk memberikannya.”

Kan. 995 menggariskan siapa saja yang dapat memberi indulgensi. Orang-orang yang dapat memberi indulgensi selain Otoritas tertinggi Gereja adalah orang-orang yang diakui memiliki kuasa itu oleh hukum, atau yang diberi oleh Paus.

Gereja berkuasa memberikan indulgensi karena Tuhan Yesus Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada Gereja untuk melepaskan dan mengampuni orang berdosa. Agar seseorang dapat memperoleh indulgensi haruslah ia sudah dibaptis, tidak di ekskomunikasi, dalam keadaan rahmat sekurang-kurangnya pada akhir perbuatan-perbuatan yang diperintahkan dan hendaknya bermaksud memperoleh dan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang diwajibkan (kan. 996). Indulgensi dapat kita mohonkan baik untuk diri sendiri maupun untuk diri orang lain yang sudah meninggal.[44]

 

Kepustakaan

Bakok, N. Lalong. Menuju Dunia Baru. Ende: Nusa Indah, 2004.

Douglas, J.D. et al., (ed.). Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid I. Judul asli: The New Bible Dictionary). Diterjemahkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih. Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992.

Farrugia, O’Collins-Gerald-, Edward G. Kamus Teologi. Judul asli: A Concise Dictionary of Theology. Diterjemahkan oleh I. Suharyo. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Katekismus Gereja Katolik. Diterjemahkan oleh Herman Embuiru. Ende: Arnoldus, 1995.

Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Komisi Internasional untuk Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC). Buku Pegangan bagi Promotor Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Martasudjita, E. Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Schlink, Basilea. Hidup yang Dikuasai Roh. Malang: Gandum Mas, 1969.

Suryanugraha, C. H. “Perayaan Sakramen Rekonsiliasi”,  dalam Liturgi, Vol. 20, no. 4, Juli-Agustus 2009. Jakarta: Komisi Liturgi KWI, 2009.

Tim SKP Jayapura. Membangun Budaya Damai dan Rekonsiliasi. Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian, 2006.

Waskito, J. Terpanggil untuk Menjadi Kudus. Medan: Bina Media Perintis, 2005.

 


[1] N. Lalong Bakok, Menuju Dunia Baru (Ende: Nusa Indah, 2004), hlm. 278-279.

[2] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 309.

[3] E. Martasudjita, Sakramensakramen ..., hlm. 312.

[4] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 313.

[5] J.D. Douglas et al., (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid I (judul asli: The New Bible Dictionary), diterjemahkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih  (Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992), hlm. 486.

[6] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 313.

[7] .D. Douglas et al., (ed.), Ensiklopedi i…, hlm. 486.

[8] J.D. Douglas et al., (ed.), Ensiklopedi i…, hlm. 486.

[9] Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 430.

[10] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 316.

[11] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 317.

[12] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 319-320.

 

[13] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 321-322.

[14] Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman …, hlm. 433-434.

[15] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 322-323.

[16] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen Rekonsiliasi”,  dalam Liturgi, Vol. 20, no. 4, Juli-Agustus 2009 (Jakarta: Komisi Liturgi KWI, 2009), hlm. 15.

 

[17] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen …, hlm. 15.

[18] Bdk. OP 31-32.

[19] SC No. 7A

[20] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen …, hlm. 15.

[21] C. H. Suryanugraha. “Perayaan Sakramen , hlm. 16.

 

[22] Bdk. OP 12.

[23] Katekismus Gereja Katolik, diterjemahkan oleh Herman Embuiru  (Ende: Arnoldus, 1995), nomor 1420.

[24] Dosa adalah setiap pikiran, kata-kata, dan tindakan yang menolak Allah. Dalam Perjanjian Lama, dosa dikenal sejak kejatuhan manusia pertama yakni Adam dan Hawa. [Lihat O’Collins-Gerald-Farrugia, Edward G. Kamus Teologi (Judul asli: A Concise Dictionary of Theology), diterjemahkan oleh I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm.59-60.]

[25] Sakramen rekonsiliasi adalah salah satu dari ketujuh sakramen Gereja yang diadakan oleh Yesus Kristus demi pengampunan dosa yang dilakukan sesudah dibaptis. Lewat sakramen ini umat diampuni dan diperdamaikan kembali dengan Allah. Dalam Injil, Kristus berhak mengampuni dosa (Mrk 2:5-11; Luk 7:36-50). Dan kuasa itu telah diberikan kepada para murid (Yoh 20:19-23). [Lihat O’Collins-Gerald-Farrugia, Edward G., Kamus Teologi …, hlm. 286.]

[26] KGK no. 1422; bdk. LG no. 11.

[27] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 243; bdk. KGK  no. 1441-1442.

[28] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 324.

[29] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 325.

[30] LG no. 11.

[31] KGK  no. 1422; bdk. LG  no. 11.

[32] Tim SKP Jayapura, Membangun Budaya Damai dan Rekonsiliasi (Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian, 2006), hlm. 50; bdk. E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326.

[33] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326.

[34] Tim SKP Jayapura, Membangun …, hlm. 13.

[35] Komisi Internasional untuk Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC), Buku Pegangan bagi Promotor Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 16.

[36] Tim SKP Jayapura, Membangun …, hlm. 52.

[37] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326.

[38] Tim SKP Jayapura, Membangun …, hlm. 51.

[39] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 326

[40] J. Waskito, Terpanggil untuk Menjadi Kudus (Medan: Bina Media Perintis, 2005), hlm. 68.

[41] Basilea Schlink, Hidup yang Dikuasai Roh (Malang: Gandum Mas, 1969), hlm. 80.

[42] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 329.

[43] Lih. KGK no. 1471.

[44] E. Martasudjita, Sakramen-sakramen …, hlm. 331.

Dipublikasi di artikel | 2 Komentar

NAMA ALLAH BAGI BANGSA BATAK TOBA

PENGANTAR

Dunia dewasa ini ditandai dan diwarnai oleh pluralisme keagamaan. Agama-agama secara berbeda mengekspresikan imannya akan yang ilahi dan membentuk dasar bagi keyakinan mereka akan kehadiran yang ilahi itu. Dalam level ini, agama-agama tentu saja berbeda dan plural. Setiap orang, kelompok, kultur, atau tradisi religius memiliki praasumsi, konsep, dan representasi yang berbeda-beda tentang Allah. Siapakah Allah? Apakah Allah? Dan bagaimanakah Allah?[1]

Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis akan mencoba menguraikan sedikit siapakah dan bagaimanakah Allah bagi Bangsa Batak yang didahului dengan sekelumit tentang sejarah suku bangsa Batak Toba. lebih lanjut, penulis akan mencoba menghubungkannya dengan Allahnya orang kristen–mengapa ada nama Debata dalam Alkitab? dan secara khusus agama Katolik?

1. SEKELUMIT TENTANG SEJARAH SUKU BANGSA BATAK

Berdasarkan hasil penelitian Kontelir G. J.J. Deutz (1872) terhadap batu tertulis yang didapati di Lobu Tua dekat Kota Barus (Tapanuli Tengah), yang isinya baru dapat dibaca pada tahun 1932 oleh Prof. Nilakantisastri mengatakan bahwa: Pada tahun ±1088 M ada 1500 orang Tamil dari India Selatan bertempat tinggal di Barus. Mereka membentuk kesatuan perdagangan untuk mencegah persaingan sesama mereka dalam dagang kapur barus dan kemenyan.[2]

Orang-orang India masuk ke Tanah Batak melalui kota Barus (Baros) dan Tapanuli Selatan yang pada waktu itu merupakan kota perniagaan yang sangat penting dalam perdagangan gading badak, gading gajah, kapur barus, kemenyan, emas, dsb. Untuk memperlancar dan mempermudah penyaluran barang-barang dagangan ke luar negeri, mereka membentuk kongsi perdagangan dan sekaligus mendirikan sebuah perkampungan di daerah Barus. Diketahui bahwa orang-orang India Selatan ini datang dari daerah Cola, Pandya, Malayalam, dan lain sebagainya. Mereka dari turunan-turunan orang Tamil yang kemudian hari tinggal menetap di Barus dan Kalasan. Lambat laun sebagian dari  mereka mulai masuk ke daerah pedalaman Tapanuli dan melakukan kontak dengan penduduk yang ada di sana. Mungkin karena putus hubungan dengan tanah airnya India, mereka terlebur ke dalam suku bangsa Batak. Dapat dipastikan, bahwa sebagian dari marga Sembiring adalah keturunan mereka; teristimewa yang nama-nama marganya menunjukkan asalnya yaitu: Colia, Pandia, Pelawi, Meliala, juga Brahmana dan Keling.[3]

Kontak yang cukup lama antara orang India dengan orang Batak mengakibatkan terjadinya percampuran kebudayaan sehingga kebudayaan yang satu saling mempengaruhi kebudayaan yang lain. Di tanah Batak misalnya akibat pengaruh orang India beberapa perubahan-perubahan terdapat dalam kehidupan orang Batak seperti: tulisan Batak itu adalah tulisan India (mungkin langsung ditiru dari orang India di Barus, tetapi mungkin juga dari tulisan Jawa Kuno di Tapanuli Selatan dan tulisan Jawa Kuno sendiri ditiru dari tulisan India), astrologi (perbintangan), beberapa alat berguna tentang pertanian, pertenunan, kesenian, kesusastraan berupa kata-kata atau istilah-istilah Sansekerta (India), bahkan kepercayaan-kepercayaan.[4]

Pengaruh orang India di tanah Batak juga dapat dilihat melalui Candi Portibi yang ada di Padang Lawas (Tapanuli Selatan) sebagai salah satu saksi sejarah bekas peninggalan orang India (Hindu) di Tanah Batak. Di samping itu, pengaruh orang India juga telah sampai ke Balige (Toba-Samosir).[5]

Karena nama Balige sebenarnya berasal dari perkataan ‘Baligeraja’ yakni berasal dari bahasa Hindu ‘Mahligairaja’. Jauh masuk ke pedalaman kota Balige tepatnya di desa ‘Sibodiala’ masih kedapatan bekas tiang-tiang dari batu yang dinamai oleh penduduk ‘Sombaon Sibasiha’ (Keramat Tiang), yang diduga bakan atau bekas tiang-tiang candi ‘Mahligai-raja’ yang beralih menjadi Balige raja lalu menjadi Balige.[6]

Kuatnya pengaruh kebudayaan orang India di tanah Batak sampai membuat orang Batak kabur di dalam membedakan mana kebudayaan orang Batak asli  dan mana yang diserap dari orang India. Lebih aneh lagi, banyak kata, istilah bahkan kepercayaan yang diserap dari orang India lebih populer dibandingkan kata, istilah atau kepercayaan orang Batak. Memang kita akui, masuknya orang India ke tanah Batak tidak dapat menggantikan agama Batak animisme menjadi agama Hindu. Tetapi kita jangan lupa, banyak istilah dan tokoh kepercayaan orang India meresap masuk dan disembah dalam kepercayaan Batak (bahkan sampai sekarang). Misalnya dewa Batara Guru, dewa Soripada (jadi Balasori), dewa Mangalabulan, dewa Naga (jadi Nagapadoha), dewa Pani (ingat: Pane na Bolon), dan lain-lain yang merupakan tokoh dewa-dewa orang India yang meresap ke dalam kepercayaan orang Batak.[7]

2. SIAPAKAH NAMA ALLAH BAGI BANGSA BATAK ?

2.1. Kepercayaan Kuno Suku Bangsa Batak

Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu, Islam, dan Kristen ke tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah ‘dewa-dewa’. Kepercayaan orang Batak dahulu (kuno) adalah kepercayaan kepada arwah leluhur[8] serta kepercayaan kepada benda-benda mati. Benda-benda mati dipercayai memiliki tondi (roh) misalnya: gunung, pohon, batu, dll yang kalau dianggap keramat dijadikan tempat yang sakral (tempat sembahan). Arwah leluhur ini lebih hormat lagi disebut dengan gelar sumangot.[9] Orang Batak percaya kepada arwah leluhur yang dapat menyebabkan beberapa penyakit atau malapetaka kepada manusia. Penghormatan dan penyembahan dilakukan kepada arwah leluhur akan mendatangkan keselamatan, kesejahteraan bagi orang tersebut maupun pada keturunan. Kuasa-kuasa inilah yang paling ditakuti dalam kehidupan orang Batak di dunia ini dan yang sangat dekat sekali dengan aktivitas manusia.[10]

Sebelum orang Batak mengenal tokoh dewa-dewa orang India dan istilah ‘Debata’, sombaon yang paling besar orang Batak (kuno) disebut ‘Ompu Na Bolon’ (Kakek/Nenek Yang Maha Besar). Ompu Nabolon (pada awalnya) bukan salah satu dewa atau tuhan tetapi dia adalah yang telah dahulu dilahirkan sebagai nenek moyang orang Batak yang memiliki kemampuan luar biasa dan juga menciptakan adat bagi manusia. Tetapi setelah masuknya kepercayaan dan istilah luar khususnya agama Hindu; Ompu Nabolon ini dijadikan sebagai dewa yang dipuja orang Batak kuno sebagai nenek/kakek yang memiliki kemampuan luar biasa. Untuk menekankan bahwa ‘Ompu Nabolon’ ini sebagai kakek/nenek yang terdahulu dan yang pertama menciptakan adat bagi manusia, Ompu Nabolon menjadi ‘Mula Jadi Nabolon’ atau ‘Tuan Mula Jadi Nabolon’. Karena kata Tuan, Mula, Jadi berarti yang dihormati, pertama dan yang diciptakan merupakan kata-kata asing yang belum pernah dikenal oleh orang Batak kuno. Selanjutnya untuk menegaskan pendewaan bahwa Ompu Nabolon atau Mula Jadi Nabolon adalah salah satu dewa terbesar orang Batak ditambahkanlah di depan Nabolon atau Mula Jadi Nabolon itu kata ‘Debata’ yang berarti dewa (=jamak) sehingga menjadi ‘Debata Mula Jadi Nabolon’.[11]

Jadi jelaslah, istilah Debata pada awalnya hanya dipakai untuk penegasan bahwa pribadi yang disembah masuk dalam golongan dewa. Dapat juga dilihat pada tokoh-tokoh kepercayaan Batak lainnya yang dianggap sebagai dewa mendapat penambahan kata ‘Debata’ di depan nama pribadi yang disembah. Misalnya Debata Batara Guru, Debata Soripada, Debata Asi-Asi, Debata Moelasungta, dan lain-lain.[12]

2.2.  Dari Kata Dewata menjadi Debata[13]

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kata atau istilah debata berasal dari bahasa Sansekerta (India) yang mengalami penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek Batak tidak mengenal huruf c, y, dan w sehingga dewata berubah menjadi debata atau nama Ceko dipanggil Seko, hancit (sakit) dipanggil menjadi hansit.[14]

Dari pengamatan penulis, setiap kata atau istilah Sansekerta yang memiliki huruf w, kalau masuk ke dalam Bahasa Batak akan diganti menjadi huruf b, atau huruf yang lain. Istilah-istilah Sansekerta yang diserap dalam bahasa Batak: istilah purwa  dalam  Sansekerta (India) menjadi purba dalam Batak Toba; wajawia menjadi manabia; wamsa menjadi bangso; pratiwi menjadi portibi; swara menjadi soara; swarga menjadi surgo.[15]

Dari contoh-contoh di atas, jelaslah bahwa setiap huruf w dalam bahasa Sansekerta (India) kalau dimasukkan ke dalam bahasa Batak akan berganti menjadi huruf b atau huruf lainnya. Wajar saja kalau Dewata dalam bahasa Sansekerta setelah masuk ke dalam bahasa Batak berganti menjadi Debata.

2.3 Masuknya Nama Debata dalam Alkitab (Bibel)[16]

Masuknya nama Debata ke dalam kitab suci yang berbahasa Batak, berawal dari kesulitan I.L. Nommensen dan P.H. Johannsen sekitar tahun 1874 dalam menerjemahkan beberapa kata dan istilah asing ke dalam bahasa Batak. Sedangkan alasan yang kedua yaitu masuknya nama Debata ke dalam Bibel adalah hanya langkah awal strategi pelayanan yang dilakukan oleh Nommensen dan Johannsen untuk orang Batak, karena kondisi orang Batak pada waktu itu belum tuntas meninggalkan kepercayaan animisme, sehingga perlu tahapan-tahapan dalam meluruskan penyembahan mereka kepada Tuhan Yesus. Dengan dasar pemikiran ini, Nommensen beserta Johannsen mencoba menerjemahkan sebutan Mahapencipta itu dengan memakai Debata karena orang Batak pada waktu itu hanya mengenal dan mengakui Debata Mula Jadi Nabolon-lah yang menciptakan alam semesta ini. Pemakaian nama Debata ini pada awalnya hanya untuk sementara waktu menunggu pertumbuhan rohani orang Batak dan suatu ketika akan disempurnakan untuk waktu depan.

Tetapi apa boleh buat, pada tahun 1913 Nommensen meninggal dunia ditambah lagi sekitar 1940 terjadi perang dunia II, yang mengakibatkan misionaris-misionaris Barat terpaksa meninggalkan Tanah Batak, sehingga proyek penerjemahan Bibel sekaligus penggantian nama Debata dari Bibel tidak berjalan. Sementara tampuk kepemimpinan gereja Batak (Toba) diambil alih oleh orang Batak yang masih baru dalam proses belajar atau belum benar-benar memahami tentang Injil. Proyek penyempurnaan Bibel pun tidak dilanjutkan bahkan sampai sekarang dan itulah yang diwarisi sampai saat ini.

3. DEBTA MULA JADI NABOLON SEBAGAI PENCIPTA

Dalam pembentukan nama Allah Tinggi Pencipta ini dua kata dijadikan unsur, yaitu  mula dan jadi. Kedua kata ini membentuk paham “menjadikan”  atau “memulakan”. Bolon berarti agung, akbar. Dengan demikian Allah ini lebih dikenal sebagai Pemula Agung atau Penjadi Agung, Pencipta Agung Dia adalah pencipta alam semesta. Dari muatan unsur kata dan semantik mitologi religius dapat disimpulkan bahwa kepada Allah Tinggi, Mulajadi, disifatkan sebagai “Pemula” segala jadi-jadian. diberikan tambahan Nabolon, Yang Agung, maka disifatkan kepadanya nama Pemula genesis agung, yakni alam raya ini. Sebagai Pemula dari alam raya, kepadanya disifatkan Tuhan Pemula Genesis Agung. singkatnya orang Batak menyebutnya sebagai Debata Mula Jadi Nabolon.[17]

Penciptaan berawal dalam waktu dan ini bertolak belakang dengan permulaan abadi Allah yang tinggi. Dalam diri-Nya ada kuasa absolut untuk memanggil segalanya ke dalam eksistensi melalui daya kreatif-Nya. Ada perbedaan esensial kodrat Pencipta dan ciptaan. Dia transenden terhadap ciptaan.[18] Transendensi Mulajadi Nabolon ini diimbangi oleh imanensinya. Kemahakuasaan dan kemahaluhuran-Nya diimbangi oleh kemesraan, belas kasih, keakraban dan keprihatinan-Nya kepada dunia.[19] Padanya ada sifat pemimpin ideal, penuntun, bahkan penjaga.[20] Ia adalah Allah pencipta yang transenden sekaligus imanen.

3.1 Debata Mula Jadi Nabolon: Creatio ex nihilo

Dr. Anicetus Sinaga mengatakan bahwa mengenai creatio ex nihilo beberapa hal lebih dahulu harus ditegaskan:

(1) Dari empat kata kerja “membuat”, yakni manompa, manjadihon, mangadonghon, dan mambahen, dua yang pertama adalah khas Allah dan dapat langsung diterjemahkan dengan creare. (2) penegasan mitologis bahwa “Mulajadi telah menciptakan segala-galanya” adalah jawaban atas pertanyaan mendalam yang implisit dalam hati Batak, dari mana asal alam semesta termasuk manusia? maka penegasan-penegasan itu mengandaikan bahwa Mulajadi Nabolon tidak mengandaikan adanya sesuatu di luar diri-Nya. (3) Namun, cara menciptakan pengada-pengada sealulah bersifat kisah, bukan penegasan teologis-logis. (4) meniru rumusan Hoetagaloeng 1926:6 “Dia sanggup menjadikan yang tidak ada (na so adong) sehingga menjadi ada”. (5) terdapat peribahasa yang cukup jelas menunjuk kemahakuasaan Mulajadi Nabolon: “Segala-galanya bergantung pada Allah”. (6) kesimpulan: Menyusur ungkapan “Dia sanggup menjadikan segala sesuatu yang ingin dijadikan-Nya, hanya dengan sabda saja” (Hoetagaloeng 1926:6), kita sependapat dengan Tobing 1963:11, yakni bahwa: Secara eksplisit memang tidak diberikan, tetapi tidak ada kesangsian bahwa kemahakuasaan Mulajadi Nabolon mencakup juga arti creatio ex nihilo.[21]

3.2 Debata Mula Jadi Nabolon dalam Tatanan Dalihan Na Tolu

Upacara adat Batak merupakan upacara religius yang menggambarkan atau memetakan roh sembahan para leluhur. Peta ini dapat terlihat dalam struktur masyarakat Batak yang disusun dengan prinsip yang arti hurufiah-nya “tungku yang berkaki tiga. Prinsip ini membagi status dan peranan seseorang dalam tiga bagian, yaitu : Hula-hula (pihak pemberi gadis), Dongan Sabutuha (teman seperut/semarga), dan Boru (pihak penerima gadis). Hubungan dalam Dalihan Na Tolu[22] ditata dalam suatu falsafah: Somba marhulahula, elek marboru, manat mardongan tubu.

Melalui ketiga kategori ini, setiap orang yang terlibat dalam upacara adat akan dipisahkan tempat duduknya (parhundulanna) berdasarkan hubungan kekerabatan (tutur) antara dia dengan Suhut, yaitu pihak yang mengadakan upacara. Pihak hula-hula duduk dalam suatu kelompok khusus, demikian juga pihak Boru dan Dongan sabutuha. Kehadiran mereka dalam upacara itu untuk melaksanakan segala kewajiban dan menerima segala hak yang telah ditentukan di dalam adat atau aturan hidup agama Batak. Setiap unsur dalam Dalihan Na Tolu memiliki hak dan kewajiban yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.[23]

Pada tatanan sosial, Dalihan Na Tolu menata hak dan kewajiban antara seseorang atau sekelompok orang dengan orang atau kelompok lainnya. Setiap orang dalam masyarakat Batak harus menjalankan perannya sesuai statusnya dalam konteks upacara adat. Pada suatu acara adat dia bisa berperan sebagai hula-hula, sedangkan pada cara lain dia bisa berperan sebagai boru atau dongan sabutuha. Setiap orang Batak akan menduduki ketiga status itu pada saat dan hubungan kekerabatan yang berlainan. Dr. Annicetus Sinaga menjelaskan struktur Dalihan Na Tolu menggambarkan hubungan 3 roh dewa sembahan leluhur yaitu Batara Guru, Mangala Sori (Bala Sori), dan Mangala Bulan (Bala Bulan). Dengan demikian, Dalihan Na Tolu merupakan tatanan rohani yang dimulai dari dunia atas (banua ginjang) dan harus dilakukan di bumi. Tiga roh dewa sembahan leluhur ini dikenal sebagai debata na tolu. Hula-hula merupakan personifikasi dari Batara Guru, Dongan Sabutuha personifikasi dari Mangala Sori dan Boru merupakan personifikasi dari Mangala Bulan.[24]

Struktur ini merupakan pola yang menata hubungan di dunia atas dan ditetapkan oleh Mulajadi Nabolon untuk juga diberlakukan di dunia manusia (banua tonga). Struktur ini dibangun dan dijamin keberadaannya oleh dewa tertinggi Batak, yaitu Debata Mulajadi Nabolon. Pelanggaran struktur ini merupakan pelanggaran terhadap ketetapan Debata Mulajadi Nabolon, dan merusakkan keseimbangan antara alam makrokosmos dengan alam mikrokosmos. Karena itu, pelanggaran ini akan mendapatkan sanksi dari debata sendiri. Ketakutan akan hukuman Debata Mulajadi Nabolon ini tertanam di hati orang Batak sehingga mereka tetap berupaya mempertahankan keberadaan upacara adat Batak.[25]

Dalam struktur ini, eksistensi roh sembahan leluhur di alam gaib atau banua ginjang direfleksikan di alam fisik atau banua tonga di dalam ketiga unsur Dalihan Na Tolu yang membangun suatu upacara adat, yaitu Hula-hula, Dongan Sabutuha, dan Boru.[26] Kehadiran ketiga roh sembahan leluhur dalam suatu upacara dinyatakan dalam kehadiran ketiga unsur Dalihan Na Tolu. Setiap upacara yang dilakukan harus dihadiri oleh ketiga unsur ini, kalau tidak, maka upacara adat tidak dapat dilaksanakan. Inilah ketetapan yang telah dibuat oleh Mulajadi nabolon.

Jadi struktur Dalihan Na Tolu merupakan proyeksi dari eksistensi ketiga dewa sembahan leluhur Batak yang ada di dunia atas (banua ginjang). Manusia sebagai pelaku upacara adat adalah sarana yang dijadikan untuk memproyeksikan eksistensi dan peranan roh sembahannya. Selama upacara adat Batak dilakukan, ketiga dewa tersebut tetap mendapat tempat untuk diproyeksikan eksistensinya dalam kehidupan bangsa Batak, sekalipun mereka tercatat sebagai orang yang beragama Kristen.

4. PENGGUNAAN NAMA ‘ALLAH’ DALAM ALKITAB[27]

‘El, Eloim, Eloah’ adalah nama pencipta alam semesta dalam bahasa Ibrani, bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Dalam bahasa Arab, allah (bentuk ringkas al ilah)merupakan istilah yang seasal (cognate) dengan kata Ibrani el, elohim, eloah.

Jauh sebelum agama Islam, orang Arab yang beragama Kristen sudah menggunakan (baca: menyebut) allah ketika mereka berdoa kepada el, elohim, eloah. Bahkan tulisan-tulisan Kristiani dalam bahasa Arab pada masa itu sudah menggunakan istilah allah sebagai padanan kata untuk el, elohim, eloah.

Sekarang ini, Allah tetap digunakan dalam alkitab bahasa Arab, baik terjemahan lama (Arabic Bible) maupun terjemahan baru (Today’s Arabic Version).

Dari dulu sampai sekarang, orang Kristen di Mesir, Libanon, Irak, Indonesia, Malaysia, Brunai, Singapura, dan di berbagai negara di Asia serta Afrika yang dipengaruhi oleh bahasa Arab, terus menggunakan (baca: menyebut)  nama allah , jika ditulis biasanya menggunakan huruf kapital “Allah” untuk menyebut pencipta alam semesta dan Bapa tuhan kita Yesus Kristus, baik dalam ibadah maupun dalam tulisan-tulisan.

Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, kata “Allah” sudah digunakan terus-menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Cornelis Ruyl, 1629), begitu juga dalam Alkitab Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdecker, 1733) dan Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius klinkert, 1879) sampai saat ini.

Dalam septuaginta yaitu terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani kata Ibrani el, elohim, eloah, diterjemahkan dengan kata Yunani theos, yang sama artinya dengan “Allah”. Jadi mengikuti cara itu maka theos dalam Perjanjian baru juga diterjemahkan dengan “Allah”.

5. PLURALISME PANDANGAN MENGENAI ALLAH[28]

Allah dipahami secara berbeda-beda, tidak hanya menurut perbadaan Agama. Dalam agama yang sama, misalnya dalam agama Kristen terdapat pandangan yang berbeda-beda. Terdapat banyak sekali cara mendekati dan memahami misteri Allah.

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap kuasa ilahi yang tertinggi ataupun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan paham-paham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih dikembangkan (NA 2).

Dengan jelas konsili membedakan antara pengalaman dan pemahaman serta perumusan. perbedaan pengalaman dan pemahaman serta perumusan menyebabkan perbedaan antara agama. perjumpaan yang mendalam dengan saudara-saudari beriman lain, akan memperkaya kehidupan beriman dan beragama kita.[29]

Praktek kepercayaan mendorong untuk selalu mencari apa yang terpenting dalam kehidupan kita, yakni kesatuan dengan Allah. Hormat terhadap misteri kehidupan yang dialami melalui macam-macam hal dan peristiwa kehidupan. Iman kita akan Kristus membuat kita makin terbuka untuk menemukan Kristus di mana pun Ia berada[30], baik Allahnya orang Batak kuno maupun Allah yang kita imani sampai sekarang.

PENUTUP

Ada banyak gambaran mengenai Allah, yang semuanya berasal dari manusia sendiri. gambaran-gambaran itu biasanya sesuai dengan alam pikiran orang, dan dipengaruhi oleh keadaan sosio-psikisnya atau budaya dan tradisi.[31] maka perlu waspada terhadap gambaran-gambaran mengenai Allah. kita harus tetap membedakan antara gambaran yang dibuat manusia dan kenyataan Allah sendiri, karena Allah sendiri sesungguhnya tidak bisa digambarkan secara penuh. keagungan dan kedahsyatan Allah sering digambarkan secara menakutkan, bahkan sebagai penguasa yang bengis.[32]

Di dalam sistem religi/agama/kepercayaan Batak Debata Mulajadi Nabolon adalah pencipta pulau Sumatra dengan segala isinya melalui tangan manusia-dewi Siborudeakparujar.[33] Gambaran ini jelaslah buatan manusia. Debata Mulajadi Nabolon yang dipercayai bangsa Batak dalam kepercayaan kuno tidak sama dengan Allah yang kita percayai sekarang.

Semua telah terjadi dan kemungkinan untuk mengganti atau menghapus nama Debata dari Bibel sekarang ini sudah merupakan pekerjaan yang berat dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Yang menjadi pertanyaan bagi kita yang berlatar belakang suku bangsa Batak, saudara menyembah yang mana: dewa atau Pribadi yang menciptakan dewa itu yang disebut Mahapencipta, atau maukah saudara merendahkan Mahapencipta itu menjadi golongan dewa? Kalau saya, saya tidak mau merendahkan derajat Ilahi dari Mahapencipta itu dan saya tetap memuliakan dan meninggikan Mahapencipta itu dalam hidupku, sebaliknya saya menyangkali nama asing itu untuk disembah. Menurut pendapat penulis, imanlah yang bisa membantu kita dalam pencarian siapakah Allah yang sesungguhnya.

Iman mempertemukan manusia dengan Allah. Tetapi Allah tetap Allah. [34] Allah “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal” (1Tim 6:16). “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Maka Allah tetap misteri. Iman adalah pergumulan terus-menerus mencari cahaya terang. Penghayatan hubungan dengan Allah selalu lebih penting daripada gambaran dan pengertian.

Daftar Pustaka:

Debata? Nama Pribadi Mahapencipta? http://be-e.info/wancil/page1/files/debata.html, 4 pebruari 2009.

Hardiwiyata, A. /LBI. “Siapakah yang Bernama ‘Allah’ itu?”, dalam Ekawarta No.05-   06/XIX , September-Desember, 1999.

Hutagalung,  W.H. Pustaha Batak: Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak, [tanpa tempat]: Tulus Jaya, 1991.

Kanisius, L. S. Allah dan Pluralisme Religius: Menelaah Gagasan Raimund Pannikar, Jakarta: OBOR, 2006.

KWI, Iman Katolik:Buku Informasi dan referensi, Yokyakarta & Jakarta: Kanisius & Obor, 1996.

Pasaribu, Rudolf. Agama Suku dan Batakologi, Medan: Pieter, 1988.

Siahaan, N. B. A. Sejarah Kebudayaan Batak: Suatu Studi tentang Suku Batak (Toba-Angkola-Mandailing-Simalungun-Pakpak Dairi-Karo), Medan: CV. Napitupulu & Sons, 1964.

Sihombing, T. M. Jambar Hata, [tanpa tempat]: CV. Tulus Jaya, 1989.

Sinaga, Anicetus. Dendang Bakti: Inkulturasi Teologi dalam Budaya Batak, Medan: Bina Media Perintis, 2004.

Sinaga, Rheinhard. Siapakah Debata (Dewata) itu?, http://artikel.sabda.org/siapakah_debata_itu, 8 Jan 2009.


[1] Silvester Kanisius L., Allah dan Pluralisme Religius: Menelaah Gagasan Raimund Pannikar (Jakarta: OBOR, 2006),  hlm. xiv.

[2] Rudolf Pasaribu, S.Th, Agama Suku dan Batakologi (Medan: Pieter, 1988 ),  hlm. 136.

[3] N. Siahaan, B. A., Sejarah Kebudayaan Batak: Suatu Studi tentang Suku Batak (Toba-Angkola-Mandailing-Simalungun-Pakpak Dairi-Karo), (Medan: CV. Napitupulu & Sons, 1964), hlm 22.

[4] N. Siahaan, B. A., Sejarah Kebudayaan Batak….hlm. 23.

[5] Rheinhard Sinaga, Siapakah Debata (Dewata) itu?, http://artikel.sabda.org/siapakah_debata_itu, 8 Jan 2009.

[6] Rheinhard Sinaga, Siapakah Debata,…8 Jan 2009.

[7] Rheinhard Sinaga, Siapakah Debata,...8 Jan 2009.

[8] Arwah leluhur diidentifikasikan sebagai roh atau dalam bahasa Batak disebut dengan “begu”, misalnya begu nurnur, begu jau, begu siharsihar, begu antuk, begu ladang, begu toba, begu siharut, begu surpusurpu, begu sorpa, begu pane, begu rojan, begu namora, dan lain-lain. Lihat T. M. Sihombing, Jambar Hata ([tanpa tempat]: CV. Tulus Jaya, 1989),  hlm. 286.

[9] Di antara begu, roh leluhur yang sudah meninggal menduduki tempat khusus dan diberi gelar baru, yaitu sumangot. Sumangot adalah arwah orang tua yang telah meninggal lengkap dengan anak cucunya; penyandang sahala yang unggul sebagaimana terbukti dalam kemakmuran, hagabeon, hasanganpon pada anak cucunya telah diangkat secara resmi dari status begu menjadi sumangot. Lih. Anicetus Sinaga, Dendang Bakti: Inkulturasi Teologi dalam Budaya Batak (Medan: Bina Media Perintis, 2004), hlm. 91.

[10] Debata? Nama Pribadi Mahapencipta? http://be-e.info/wancil/page1/files/debata.html, hlm. 59., 4 pebruari 2009.

[11] Debata? Nama Pribadi,… hlm. 59.

[12] W.H. Hutagalung, Pustaha Batak: Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak ([tanpa tempat]: Tulus Jaya, 1991), Hlm. 1-2.

[13] Debata? Nama Pribadi,… hlm. 59.

[14] Debata? Nama Pribadi,… hlm. 60.

[15] Debata? Nama Pribadi,… hlm. 60.

[16] Debata? Nama Pribadi,… hlm. 62

[17] Anicetus Sinaga, Dendang Bakti: …, hlm.52.

[18] Anicetus Sinaga, The Toba – Batak High God Transendence and Immanence (West Germany: Antrophos Institut D-5205 St. Augustin, 1981), hlm. 50.

[19] Ia disebut manatap, martinangi, marbinege, sian langit ni langitkan, sian ginjang ni ginjangan … nauntopap sambubu nami, na pahibul pusupusu, naparimpur jari-jari …. Lih. Raja Patik Tampubolon, Pustaha Tumbaga …, hlm. 31.

[20] Mulajadi Nabolon disebut raja sitading dapotan, panungkunan ni uhum, pandapotan ni adat, … pamuro na so mantat sior, parmahan na so mantat batahi, na di pudi dipaima, na di jolo dieahi, pangalualuan ni nabile, pangompasompasan ni na maliali. Anicetus Sinaga, Dendang Bakti: …, hlm. 58.

[21] Anicetus Sinaga, Dendang Bakti: …, hlm.61-62.

[22] Anicetus Sinaga, The Toba – Batak High…, hlm. 75.

[23] Rheinhard Sinaga, Siapakah Debata,…8 Jan 2009.

[24] Anicetus Sinaga, The Toba – Batak High…, hlm. 76.

[25] Rheinhard Sinaga, Siapakah Debata,…8 Jan 2009.

[26] T. M. Sihombing, Jambar Hata ([Tanpa tempat]: CV. Tulus Jaya, 1989), hlm. 23-25.

[27] Penggunaan nama ‘Allah dalam Alkitab ini dikutib dari A. Hardiwiyata/LBI, “Siapakah yang Bernama ‘Allah’ itu?”, dalam Ekawarta No.05-06/XIX (September-Desember, 1999), hlm. 8-9.

[28] Pluralisme pandangan mengenai Allah dikutip dari KWI, Iman Katolik:Buku Informasi dan referensi (Yokyakarta & Jakarta: Kanisius & Obor, 1996), hlm.134-135.

[29] KWI, Iman Katolik….hlm. 134.

[30] KWI, Iman Katolik….hlm. 135.

[31] KWI, Iman Katolik….hlm. 133.

[32] KWI, Iman Katolik….hlm. 133.

[33] Manusia pertama orang Batak yaitu si Raja Batak dipercayai sebagai keturunan Siraja Ihatmanisia dan Siboru Itammanisia. Kedua orang ini adalah hasil perkawinan Siborudeakparujar dengan Tuan Rumagorgarumauhir. Siborudeakparujar adalah anak Debata Bataraguru. Tuan Rumagorgarumauhir adalah anak Debata Balabulan. Debata Bataraguru dan Debata Balabulan adalah anak Debata Mulajadinabolon hasil perkawinan dengan Manuk Hulambujati. Manusia pertama atau leluhur orang Batak, si Raja Batak yang dipercayai tinggal di Dolok Pusuk Buhit adalah keturunan Debata Mulajadi Nabolon. Rheinhard Sinaga, Siapakah Debata,…8 Jan 2009.

[34] KWI, Iman Katolik….hlm. 131.

Dipublikasi di artikel | 3 Komentar