kamar pengakuan

Hari ini, hari gelisah untukku. Pagi tadi aku terjaga tetapi tetap terlelap. Aku berbicara namun aku diam. Aku berjalan tetapi aku berhenti. Aku tertawa namun aku menangis. Aku merasa senang tetapi aku gelisah. Panas. Dingin. Aku meraung penuh durja di atas perih yang menggelinjang.
Semuanya berawal dari pertemuanku dengan dia di Gereja. Di tengah syahdunya lagu pujian misa, seorang dara datang menghampiri tempat duduk yang kebetulan kosong di sampingku. Dara yang kupersilahkan duduk tersenyum manis. Sekilas kupandangi, dia berdarah Jerman, cantik, rambut pirang sebahu, bodi yang aduhai, dan selaksa bentuk atau paras yang dapat dilontarkan padanya. “Terima kasih” ungkapnya dengan logat Jerman yang kental. “Bitte” ucapku asal. Selama misa berlangsung kami saling curi pandang. Aku jadi salah tingkah. Pikiranku diraup oleh keindahan tubuhnya. Kulihat raut mukanya penuh keheranan dengan jawabanku tadi. Setelah misa dara itu menemuiku.
Sprechen Sie Deutsch?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya.
Ja, ein wenig,” kataku.
Mein name ist Dora.”
Mein name ist Lasn.”
Sejak pertemuan singkat itu, kami terus menerus berkontak. Dora selalu hinggap dalam segala aktivitasku. Ia mengusik meditasiku. Sabda yang kubaca tidak mampu kurenungkan dengan baik karena Dora selalu bertengger di relung-relung kepalaku. Mazmur-mazmur yang sangat indah sekalipun tidak bisa mengatasi kehadiran Dora. Pohon kreativitas tertanam dalam pikiranku. Kemudian pohon itu kurawat dengan visi yang tidak jelas. Dan imajinasiku merdeka dengan sayap-sayap yang tidak kokoh. Tidak mungkin, aku tidak mungkin bisa memilikinya. Dia sudah milik orang. Berdosakah aku?
Ketika kutanya padanya, “Apakah kamu mencintai aku?” “Ya,” jawabnya. “Aku juga,” ucapku lagi. Waduh bagaimana ini? Aku seorang biarawan, yang dilarang mengikat hati pada seseorang. Kepada siapa aku harus mengadu. Telah kuanyam selembar rintih di hatiku. Telah kupahat semburat getir di kalbuku. Dan kusematkan sepucuk nestapa serta seribu muslihat ‘tuk mendapatkan gigi buasnya.
Hari ini juga kuputuskan mengatur langkah. Kala lembayung membeku di ribaan angkasa. Sesalku membludak seiring desahan nafasku. Tangis, jerit, dan ratap berguling di aliran darahku. Bibirku berkelu ‘tuk ucapkan maaf. Aku akan mencari dia yang akan memberiku nasihat bijak.
Kebetulan saja di kapel duduk bapa pengakuanku, Pater Philosopianus. Bapa yang selalu membantuku. Aku berlutut di depannya dan membuat tanda salib, sebagai tanda bahwa aku akan mengaku dosa. Dengan senang hati di membawaku ke kamar pengakuan.
Dengan rasa mawas dan gelisah aku masuk kamar pengakuan. Aku berlutut dan membuat tanda salib di depan Pater Philo (nama panggilannya). “Anakku akukanlah dosa-dosamu!” ungkapnya dengan penuh keramahan. “Bapa, pengakuan saya yang terakhir, satu bulan yang lalu. Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, kepada bapa dan seluruh umat Allah yang kudus, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian: bayak hal yang saya lakukan akhir-akhir ini bapa, … Bagaimana bapa, apakah tidak lebih baik saya tanggalkan jubah ini? Saya juga kerap memarahi saudara-saudara saya, … Saya menyesal atas semua dosa-dosa saya, dan dengan hormat saya minta pengampunan serta penitensi yang berguna bagi saya.”
“Anakku yang terkasih, banyak orang masuk jerat emosi dan nafsu. Kamu kan tahu tokoh Daud. Banyak orang Israel mengakui: jika Saul sanggup membunuh seribu musuh, Daud sanggup membunuhnya dalam berlaksa. Ini berarti Daud memiliki reputasi dan prestasi yang luar biasa. Dialah contoh pemimpin yang luar biasa. Namun sungguh sayang semua citra diri itu dirusak oleh nila yang setitik, yaitu ketidakmampuan Daud mengelola perasaannya kepada Batsyeba. Hanya karena api asmara sesaat, Daud akhirnya jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Orang yang dahulu bahkan tidak bersedia membunuh orang yang diurapi Tuhan, akhirnya malah nekat membunuh panglimanya sendiri demi menutupi aib perselingkuhan. Sama halnya dengan Simson, hanya dengan pesona dan kerlingan mata seorang perempuan Sorek kekuatannya hilang. Esau dilihat alkitab sebagai orang yang memiliki nafsu yang rendahan. Kebesaran mereka ternoda karena satu prinsip yang sederhana, yaitu mereka tidak melatih diri untuk mengelola emosi dan nafsu mereka. Keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup tidak pernah mengenal kata cukup dan puas. Maka anakku yang terkasih, teladanilah prinsip Yusuf. Dia tidak ngiler dan dan tergiur untuk berselingkuh dengah istri atasannya, sekalipun sudah berkali-kali digoda. Sama dengan Daniel, ia tidak pernah mudah ditundukkan oleh iming-iming jabatan, sebagai imbalan, jika ia mau meninggalkan Tuhan Allah Israel. Nah, anakku terkasih berusahalah mengelola emosi, perasaan dan nafsumu. Sadarilah bahwa nafsu bukanlah tuan yang baik untuk diandalkan, … sebagai penitensi bagimu anakku, setelah keluar dari kamar pengakuan ini ucapkanlah doa Bapa kami satu kali, Salam Maria tiga kali dan kemuliaan satu kali. Nah, atas rasa sesalmu ucapkanlah saat ini doa tobat.” Setelah Pater Philo memberi absolusi aku membuat tanda salib, mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamar pengakuan.
We smiled and smiled 2x // Laughter echoes in your eyes // we climbed and climbed // foot falls softly in the pines // we cry and cry 2x // sadness passes in a while // we roll and roll // we roll and roll // help me roll away the stone. Lagunya Pink Floyd bergema mengiringi langkahku.
Lega, bahagia,… Tiada kata lagi “tuk mengungkapkan perasaanku, ketika keluar dari kamar pengakuan. Seolah-olah matahari pun ikut menghiburku. Rumput-rumput pun bergoyang mesra. Segalanya segar bagiku, meskipun matahari memancarkan cahayanya yang sangat panas, meskipun angin berhembus kencang dan badai menghantam aku tetap segar dan segar. Aku tidak lupa bernyanyi dan bersiul sambil bekerja agar tetap tegar menggapai panggilan-Nya. Aku akan tetap menggapai impian dan cita-citaku. Aku bukan manusia sempurna, tetapi aku adalah manusia yang bangkit dari keegoisan. Aku akan tetap bersyukur kepada Tuhan atas kesehatan. Aku akan mengecap serentet doa dalam brevir, bersama dengan kebasan kitab suci. Bersama lolongan nada-nada ilmu. Aku akan tersenyum menjaring sepiku. “Danke schoen Pater!

Arti kata:
Bitte = (terimakasih) kembali.
Sprechen Sie Deutsch? = kau berbicara bahasa Jerman?
Ja, ein wenig = ya, sedikit-sedikit.
Mein name ist Dora = nama saya Dora
Mein name ist Lasn = nama saya Lasn
Danke schoen Pater! = terima kasih Pater!

Tentang lasnersiregar

aku adalah aku yang diakukan oleh aku yang lain Terimakasih bagi semua yang berkenan menerima saya menulis sesuatu di blog ini. Saya mau membagikan sedikit permenungan-pemenungan sehari-hari yang bisa menggugah hati, sekurang-kurangnya hatiku sendiri. Saya tidak pandai berkata-kata, tetapi saya mau mencoba lebih lagi. Salam sejahtera bagi kita semua.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s