Bayang-bayang Filsuf Bayanngan

Ia kelihatan murung. Sepertinya ia berada di dunia lain. Mungkin ia berada di dunia bayang-bayang. Ah, itu hanya perasaanku saja!. Setiap orang mempunyai kegiatan sendiri menurut adanya. Tetapi adanya seseorang ada karena ada yang lain. Berkorelasi, gitu loh! Ya, benar! Setiap orang itu unik, tiada duanya.

“Hei…, Coy, kok lo bingung gitu.  Seperti berada di bayang-banyang!”

“Ngawur lo, gue berada di sini ini, bukan berada di dunia bayang-bayang, macam Plato saja lo.”

“Jadi, ngapain lo nongol di sini ini seperti Homo Sapiens, yang dipahat si Aguste Rodin, itu loh…, manusia yang berpikir?”

“Jauh banget lo, praktis aja lagi!”

“Oke deh, lo ngapain di sini ini?”

“Gue lagi bingung nih. Tadi pagi gue membolak-balik buku. Trus, gue berhenti pada sebuah litaninya Dolen.[1] Ini nih, biar gue bacain:

Seminaris yang suka mengeluh?

Ia akan jadi imam penggerutu!

Seminaris yang sembrono?

Ia akan jadi imam yang sembrono!

Seminaris yang selalu terlambat?

Ia akan jadi pribadi yang dapat melukai perasaan orang karena perilakunya yang  seenaknya!

Seminaris yang pemalu dan selalu menghindari orang?

Ia tidak mungkin dapat mewartakan Kabar Gembira seperti yang diharapkan Gereja!

Seminaris yang jorok?

Ia akan dijauhi orang!

Seminaris yang membosankan dan suka membodohi orang dengan ketololannya?

Tak akan ada orang yang senang menerimamu di rumahnya!

Seminaris yang suka menciptakan gosip?

Ia akan jadi imam yang banyak ngomong!

Seminaris yang menghindari hal-hal kecil?

Ia tidak akan pernah tahu akan jadi imam seperti apa ia kelak!

Seminaris yang murah hati?

Ia akan menjadi imam yang murah hati!

Seminaris yang sopan?

Ia akan menjadi imam yang sopan!

Seminaris yang tepat waktu?

Ia akan menjadi imam yang dihargai oleh banyak orang!

Seminaris yang peduli pada sesama dan membuat dirinya menjadi tuan atas rasa malu yang ia miliki?

Ia akan menjadi imam yang pelayanan pastoralnya diminati dan dinantikan banyak orang!

Seminaris yang berpenampilan dan berperilaku sesuai dengan situasi?

Ia akan menjadi imam yang bisa mendekati siapa saja!

Seminaris yang tahu kapan saatnya mendengarkan dengan baik dan kapan harus berbicara?

Ia akan menjadi yang selalu dinantikan kedatangannya di setiap rumah!

Seminaris yang mempunyai kepercayaan diri?

Ia akan menjadi imam yang dapat dipercaya!

Seminari yang tetap tenang meskipun menghadapi banyak tekanan?

Dialah teladan yang layak dikagumi![2]

“Trus, gimana?”

“Yah, merenunglah, berefleksi!”

“Itu kan litani untuk Seminaris?”

“Lo kan calon imam? Yah, sama dong status kita dengan mereka.”

“Heihhh, lo kenal nggak Machiavelli? Dia berkata bahwa manusia adalah makhluk irasional yang tingkah lakunya diombang-ambingkan oleh emosi-emosinya. Jadi untuk memperkokoh pribadinya, harus mampu memobilisasi nafsu-nafsu rendah mereka yang ingin dikuasai maksud-maksudnya sendiri. Nah, dalam rangka itu Machiavelli mengusulkan untuk tidak perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan moral.”

“Wah, bisa digebuki kaum moralis tuh! Kok lo ngutip pendapat gituan. Gue jadi sangsi sama lo!”

“Justru itu yang gue mau. Lo kenal kan siapa Rene Descartes. Itu loh, Cogito Ergo Sum. Semakin kita menyagsikan segala sesuatu, entah kita ditipu para filsuf atau ternyata tidak, termasuk menyangsikan yang bahwa kita tidak dapat menyangsikan, kita semakin megada. Exist gitu loh!”

“waduh, gue tambah bingung nih!” Dari litani sampai ke Cogito Ergo Sum-nya Descartes. Jadi gimana tentang litani tadi?”

“Descartes mengatakan dalam pemikiran etikanya, betapa pentingnya mengendalikan hasrat-hasrat dan badan kita sehingga jiwa kita semakin menguasai tingkah laku kita. Kalau lo mau jadi imam yang dapat dipercaya, Yah.., mulai sekarang tampil percaya diri. Lo bebas menentukan hidup lo.”

“Oh, ia ya, seperti yang dikatakan Baruch de Spinoza, orang yang bebas adalah orang menaklukkan emosi-emosinya, mengubahnya menjadi kesadaran.”

“Sama halnya tentang apa yang dikatakan Rousseau, manusia dilahirkan bebas; dan di mana-mana dibelenggu. Orang menganggap dirinya tuan atas orang lain, padahal dirinya tetap menjadi seorang budak yang lebih parah dari pada mereka. Maksudnya, setiap orang mempunyai kebebasan eksistensial dan sekaligus dibatasi kebebasan sosial.”

“Waduh.., apa lagi itu???”


[1] Timothy M. Dolan, sekarang menjabat Uskup agung Milwankee, dulu adalah Rektor Kolese Amerika Utara di Roma selama tujuh tahun.

[2] Thimothy M Dolan, Priects for the Third Millenium (Huntington, 2000), hlm. 146.

Tentang lasnersiregar

aku adalah aku yang diakukan oleh aku yang lain Terimakasih bagi semua yang berkenan menerima saya menulis sesuatu di blog ini. Saya mau membagikan sedikit permenungan-pemenungan sehari-hari yang bisa menggugah hati, sekurang-kurangnya hatiku sendiri. Saya tidak pandai berkata-kata, tetapi saya mau mencoba lebih lagi. Salam sejahtera bagi kita semua.
Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s