Luka di Ranjang Pembual

Luka, luka di hati

Luka bukan sembarang luka

Kulempar sekepal tanya padamu

Pernahkah kau berpikir bahwa aku menghormatimu ?

Ya, aku memujamu, kau adalah harapan gereja, kataku!

Tapi, hatiku luka dengan ikrar selibatmu yang tak tersimpan

Banyak perempuan lemah kau aniaya

Kau perkosa

Perkosa lukaku

Luka, luka bukan sembarang luka

Lukaku tak terobati

Wahai kasihku!

Dengan gontai kau pikul bakul ke kampus

Mengecap filsafat gratis

Namun, kau tampak seperti benalu

Parasit yang membual

Yang gagah berani memutar kata kosong

Mengisi kertas putih

Membual bualan

Yang cakap berkata bijak

Cakap menggores syair indah

Namun sorak tanpa aksi menumbuhkan luka

Apa arti doa sehari?

Di mana wujudnya?

Ah… aku ragu, ragu ‘bak filsuf

Itu rutinitas belaka ‘tuk menyambung hidup

Tersimpan dalam celah-celah batu

Dibawa oleh sayap-sayap kosong

Luka, luka bukan sembarang luka

Lukaku tak terobati

Maafkan daku bila tak mampu memelukmu dengan cinta

‘tak mau mencium bibir manismu,

menyentuh nafsu sesaat

Ah, sayangku! Runcing gigimu bagai taring harimau

Jangan mengsa aku

Jangan hisap darahku

Aku adalah kekasihmu

Pernahkah kau tahu pembual agama?

Mereka yang mengusir cahaya firman

Mereka yang pagi mencicipi perjamuan

Namun tak mengindahkannya dan menjadi abu yang berhamburan

Kasihku!

Syair-syairku tak bisa terangkai

Syair ‘kan jadi bualan-bualan mesra

Kau mengumbar bualan mesra?

Ah, sayang! Syair-syair telah kukubur sebelum apimu menjilat lidahku

Ih, geli! Ha.. ha.. ha..

Lihatlah !

Itu dia penjual omong kosong

Terbang melayangkan bualan

Menjelmakan mata pisau

Membawa kobaran api

Bahkan tikaman jarum ilalang

Luka, luka bukan sembarang luka

Lukaku tak terobati

Kasihku!

Bisakah kukatakan kau pembual ?

Pembual bualan

Pembual bualan kosong

Segala santun dan anyaman cinta kau jadikan koyakan bualan

Celaka!

Aku seorang yang najis bibir

Bibir pedih perih kudekap

Bibir manis pelacur

Amboi! Apa itu pelacur?

Bukan, bukan aku

Biarkan angin timur menderu

Menyapu pasir menyapu gelombang

Dan sejenak halus menyapu rambutku

Aku bukan pembual

Aku tinggal di ranjang pembual

Tentang lasnersiregar

aku adalah aku yang diakukan oleh aku yang lain Terimakasih bagi semua yang berkenan menerima saya menulis sesuatu di blog ini. Saya mau membagikan sedikit permenungan-pemenungan sehari-hari yang bisa menggugah hati, sekurang-kurangnya hatiku sendiri. Saya tidak pandai berkata-kata, tetapi saya mau mencoba lebih lagi. Salam sejahtera bagi kita semua.
Pos ini dipublikasikan di puisi. Tandai permalink.

4 Balasan ke Luka di Ranjang Pembual

  1. cobaberbagi berkata:

    Judulnya ngeri….
    nice poem mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s