He Pingping Jadi Inspirasi Hidup

He Pingping, yang lahir dengan bentuk primordial dwarfisme, dengan tinggi badan 29 inci atau setara 73 centi meter, kahiran China menjadi pemegang rekor sebagai manusia terpendek di dunia sejak Maret 2008.

Craig Glenday, pimpinan Guinness World Records, sekaligus mengukur Pingping ke pedalaman Mongolia untuk mengkomfirmasi statusnya sebagai manusia terpendek di dunia.

“Sejak pertama kali aku melemparkan mata padanya, aku tahu bahwa dia adalah seorang yang istimewa, dia seperti tesenyum nakal. Anda tidak bisa membantunya, tetapi justru akan terpesona olehnya,” kata Glenday mengisahkan pertemuannya dengan Pingping.

“Dia selalu membangunkan semangat hidup tiap orang yang berada di sekitarnya, tiap orang yang ditemuinya. Dan tak jarang ia menjadi ispirasi hidup bagi siapapun yang merasa dianggap berbeda atau tidak biasa di lingkungannya,” tambah Glenday.

Tetapi kini dia telah meninggal dunia. Meningalkan senyuman, gairah hidup, kemenangan, dan inspirasi hidup bagi dunia.

Sebelum Pingping meninggal, ia tengah ditemani oleh adik iparnya dalam perjalanan ke Eropa utnuk film besutan Lo Show Dei Record. Siapa gerangan yang dapat mengantinya?

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup di tepi jalan dan ketika dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah” (Abu Bakar Sibli)

Iklan
Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

2000 Rupiah Untuk Pengamen

Sepulang dari kantor, Bagus berangkat ke SD St. Fransiskus Asisi Untuk menjemput putri bungsunya. Kegiatan ini sudah dilakoninya semenjak anak sulungnya sekolah di sana.

Benar, bahwa Sela sudah siap memasuki BMW hitam yang selalu dibawa ayahnya untuk menjemputnya

Jarak sekolah ke rumah mereka kira-kira 6 km. jalurnya harus melewati kota yang bising dan kerap macet.

“Pap…, Papa… tunggu sebentar, Sela mau turun.” Sela turun dari mobil kesayangan Bagus. Ia berlari ke arah anak kecil sembari mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikannya kepada anak kecil itu.

Dari jauh Bagus mengamati tindakan putrinya yang manis. “Mungkin anak kecil itu masih sebaya dengan Sela.” Bisiknya dalam hati.

“Dia senyum padaku Papa.” Ungkap Sela penuh bahagia.

“Apa yang kauberikan itu Sela?” Tanya Bagus pura-pura tidak tahu.

“Papa! Tadi mama memberi uang jajanku Rp.5000. Kubelanjakan Rp.2000 bersama dengan teman-temanku. Sisanya Rp.3000., Rp.1000 untuk kutabung dan Rp.2000 lagi untuk mereka yang sungguh membutuhkannya. Kebetulan kita lewat dan melihat pengamen. Mereka kan temanku juga Pap!”

Bagus tersenyum. Permenungan yang sangat berharga diterimanya lewat putri bungsunya. “Sela masih kecil sudah tahu beramal,” bisiknya dalam hati dengan penuh kebanggaan.

Kebahagiaan akan mengejar mereka yang memberikan kebahagiaan kepada orang lain.” (Darmo Raharjo).

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Tahu Tapi Tidak Sadar

Gustaf menghampiri Soni yang asyik membaca buku di salah satu ruangan kantor di mana mereka bekerja.

“ Bang Soni, kalau boleh tanya apa-apa saja  kegiatan abang selama satu Minggu?” selidik Gustaf seperti seorang wartawan.

“Padat Gus! Pagi setelah bangun tidur mandi, serapan, pergi ke kantor, pertemuan, baca buku, menulis berita  di sebuah majalah, di depan komputer, merokok,  menjemput ibu, kadang-kadang menemani papa meninjau sekolahnya, malamnya baca buku, nonton, di depan komputer, dll.” Jawab Soni dengan bangga.

“Kapan waktu olah raga atau refreshing ?”

“Waduh Gus, di jaman modern ini, kita tidak boleh menyia-siakan waktu. Olah raga, rekreasi, atau refreshing itu pekerjaan yang menyia-siakan waktu. Tanpa itu semua aku bisa sehat kok. Setiap hari bisa ngantor.” Jawabnya mantap seperti penasihat.

Seminggu kemudian,

Gustaf menjenguk Soni yang tergeletak lemah di unit no. 7 Rumah Sakit Mulia. Soni mengalami sakit yang tak terdeteksi.

“Banyak orang yang tahu tetapi tidak sadar. Kita tahu bahwa untuk menjaga kesehatan kita perlu berolah raga, tetapi kita tetap tidak berolah raga.” (Arvan Pradiansyah)

Kita tahu bahwa merokok itu berbahaya, tetapi kita tetap merokok.

Dipublikasi di cerita bermakna | 7 Komentar

Di mana Kebahagiaan Itu?

“Kakek kok kelihatan murung?” tanya Rio kepada kakeknya yang kebetulan duduk di ruang tamu.

“Oh ya, kok Rio tahu?”

“Ia dong Kek, dari raut muka kakek nampak kok.”

Senin hingga Minggu, Kakek Rio yang sudah lumayan tua tidak henti-hentinya bekerja. Ke kantor. Mengunjungi P.T. Sekolah. Club. Dll. Tidak ada waktu bersama  dengan keluarga.  Harta kekayaannya tidak terhitung karena banyaknya.

“Ih, kakek kok bisa sedih ya? Segala sesuatu ada pada Kakek?” Rio tidak tahu bahwa segala harta dan kekayaan akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan kebahagiaan.

Harta yang didapat dengan cepat dan tidak halal, akan menimbulkan ketidakbahagiaan. Jiwa yang damai akan menuai kebahagiaan.

“Orang yang korupsi dan serakah sebetulnya memiliki satu tujuan: kebahagiaan. Namun karena mereka menganggap dirinya hanya makhluk fisik, maka kebahagiaan itu diterjemahkan menjadi: mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Padahal harta yang mereka kumpulkan tidak akan pernah membuat mereka puas, tetapi hanya membuat mereka haus. Mereka tidak sadar bahwa sumber kebahagiaan yang abadi itu ada di dalam jiwa mereka sendiri. Mereka tidak pernah menyelami kekayaan terbesar yang mereka miliki itu.” (Arvan Pradiansyah)

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Saleh, di mana saja?

Bentuk hidup saleh itu berbeda pada pengusaha atau karyawan, presiden atau masyarakat, bapak atau ibu, kakak atau adik, janda atau gadis, mahasiswa atau buruh, dan lain-lain.

Selanjutnya harus disesuaikan dengan kekuatan, keadaan, dan kewajiban masing-masing.

Hidup saleh yang sejati tidak pernah merugikan, melainkan menyempurnakan apa yang kita lakukan. Hidup saleh yang bertentangan dengan martabat hidup seseorang itu jelas salah.

Lebah menghisap madu dari bunga tanpa merusakkannya, tetapi meninggalkannya utuh dan segar seperti waktu menemukannya. Hidup saleh masih lebih lagi: tidak hanya tidak merugikan martabat hidup, tetapi menghiasi dan memberikan keindahan-keindahan.

Berbagai macam permata direndam dalam madu menjadi lebih gemerlapan, setiap bentuk menurut warnanya. Begitu juga setiap orang menjadi lebih menarik dan lebih sempurna dalam panggilannya kalau ia mempersatukannya dengan hidup saleh.

Hidup saleh membuat hidup keluarga penuh damai, cinta suami-istri lebih jujur, penghambaan kepada raja lebih setia, dan setiap tugas menjadi menyenangkan penuh gembira.

“Di manapun kita berada, kita tidak hanya saleh tetapi harus mengusahakan kesempurnaan.” (Fransiskus dari Sales)

Dipublikasi di cerita bermakna | 2 Komentar

Jangan Khawatir !

Namanya Antonius, 18 tahun. Setelah orabg tuanya meninggal dunia, ia tinggal sendiri dengan satu-satunya adik wanitanya yang masih kecil. Ia menginginkan hidup yang sempurna di mata Tuhan.

Enam bulan berlalu setelah kematian orang tuanya, ia masuk ke dalam gereja. Kebetulan pada saat itu injil sedang  dibacakan.

“Jikalau engkau ingin menjadi sempurna, pergilah, juallah harta milikmu, dan berikanlah kepada orang miskin, dan engkau akan memiliki harta di surga, dan datanglah mengikuti aku.”

Selekas itu juga ia menjual peninggalan orang tuanya.

“Jangan kamu khawatir akan hari esok.”

Antonius menyerahkan adiknya kepada pengasuh yang dapat dipercaya untuk dididik.

Antonius bekerja dengan tangannya sendiri, karena ia mendengar bahwa,

“Barang siapa tidak bekerja, ia tidak boleh makan.”

Apa yang diperolehnya, sebagian untuk makan dan sebagiannya lagi diberikan kepada orang miskin. Ia terkenal dengan sebuatan sahabat Tuhan.

Dipublikasi di cerita bermakna | Meninggalkan komentar

Satu Jiwa yang Menghayati Dua Badan

Hari itu aku bertemu dengan Gregorius dari Nanzianze. Dia begitu ramah dan bersahabat. Ketika kutanya siapa orang yang selalu bersamanya dijawabnya,

”Basilius Agung.”

”Pembawaannya matang dan bijaksana dalam berbicara, simpatik.”

Hari berikutnya kulihat dua orang bersahabat itu memasuki salah satu ruangan kampus yang selalu tertata rapi.

”Sejak kapan kalian bersahabat?”

”Sudah lama.” jawabnya singkat.

”Dengan beredarnya waktu kami mengakui rasa simpati kami yang satu terhadap yang lain, dan kami menemukan bahwa falsafahlah yang menjadi pusat perhatian kami. Sejak masa itu kami yang seluruhnya terbuka terhadap yang lain. Kami diam dalam satu rumah, makan pada meja yang sama, mata terarah pada kepada tujuan yang sama, sedangkan simpati kami satu sama lain menjadi semakin hangat dan semakin kuat.”

”Apakah tidak ada percekcokan?”

”Kami seolah-olah mempunyai jiwa yang menghayati dua badan. Kami didorong oleh harapan yang sama dalam mengejar ilmu, sesuatu yang biasanya dapat menimbulkan cemburu. Tetapi, di antara kami tidak ada rasa cemburu; hanya perlombaanlah yang meningkatkan kegiatan kami. Sebab memang ada perlombaan di antara kami. Tetapi yang diperebutkan bukannya siapa yang menguasai tempat pertama untuk dirinya sendiri, melainkan bagaimana ia dapat memberikan itu kepada yang lain. Setiap dari kami menganggap apa yang dicapai orang lain sebagai keberhasilan sendiri.”

Tuhan memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengertian kepada orang yang berpengetahuan (Daniel 2:21)

Dipublikasi di cerita bermakna | 2 Komentar